Jumat, 25 Maret 2016

Cerita Karangan Oneshot: "Dia atau Dirimu"

                                                    "Dia atau Dirimu"


Penulis: Fundhy

 Di suatu malam yang sunyi di sebuah kota, terlihat seorang pemuda berjalan seorang diri sambil mengikuti cahaya redup lampu jalanan sambil sesekali menendang-nendang kaleng kosong yang berada di depannya. Dengan wajah yang murung pemuda itu berjalan memasuki sebuah gang sempit menuju ke sebuah tempat kost yang menjadi tempat tinggalnya selama menuntut ilmu di kota itu.
Malam itu ia baru saja mengantar kekasih yang sangat ia cintai ke bandara karena sang kekasih lebih memilih pergi menuntut ilmu di Amerika.
Malam menjadi semakin hening saat pemuda tersebut tanpa sadar meneteskan airmatanya walau tidak mengeluarkan suara tangisan namun keheningan itu berubah saat ia mendengar suara teriakan minta tolong yang tidak jauh dari gang tempatnya berada. Itu adalah suara minta tolong dari seorang gadis yang diganggu oleh dua orang preman yang biasa berkumpul di tempat itu mencari mangsa.

Tanpa menunggu lama lagi, pemuda tersebut langsung berlari ke arah sumber suara dan tanpa pikir panjang langsung menghajar kedua preman itu hingga membuat kedua preman itu lari namun setelah menghajar kedua preman tadi ia hanya berjalan terus tanpa mempedulikan gadis yang ditolongnya.


"Terima kasih", ucap gadis itu namun pemuda tadi tidak mempedulikan gadis tersebut bahkan mempercepat langkahnya dan membuat gadis tadi terpaku memandanginya.

Setelah pemuda itu menghilang di kegelapan malam, gadis itu yang masih terpaku memandang penolongnya tersebut tersadar dan mulai melanjutkan perjalanannya tapi langkahnya terhenti saat melihat sebuah dompet tergeletak begitu saja di jalan. Tanpa menunggu lama lagi gadis itu mengambil dompet tersebut dan melihat kartu mahasiswa yang ada di dalamnya.

"Jadi namanya Stiv dan ternyata ia kuliah di tempat aku kuliah juga !! kalau begitu besok aku akan mengembalikan dompet ini padanya", katanya dalam hati.

Keesokan harinya kelas pemuda yang bernama Stiv itu menjadi ramai dengan datangnya seorang gadis cantik yang mencarinya dan kini telah berada tepat di depannya.


"Hai!! Kamu Stiv kan?”, kata gadis itu.

“I-iya, tapi darimana kau mengetahui namaku?”, balas Stiv terbata saat seorang gadis cantik yang belum dikenalnya mengetahui namanya.

“Oh itu, aku ingin mengembalikan dompet ini padamu dan sekaligus mengucapkan terima kasih karena semalam sudah menolongku", kata gadis itu sambil mengambil sebuah dompet dari tasnya.

"Iya sama-sama aku juga kebetulan lewat di jalan itu lalu mendengar suara teriakanmu jadi tanpa pikir panjang lagi aku langsung pergi menolong", jawab Stiv.

“Tapi darimana kau mendapatkan dompetku? Aku sudah mencarinya kemana-mana” lanjut Stiv lagi.

“Dompetmu aku temukan di tempat kau menghajar preman semalam, aku memungutnya sesaat setelah kau pergi”, balas gadis itu.

“Begitu yah, aku tidak menyangka kalau dompetku terjatuh saat aku menghajar preman itu dan juga aku minta maaf karena saat itu aku mengacuhkanmu”, kata Stiv.

“Tidak apa-apa, aku tau saat itu kau sedang dalam masalah” balas gadis itu.

Melihat percakapan kedua insan berlainan jenis itu membuat seisi kelas menjadi heboh terutama laki-laki yang berada di kelas itu, mereka saling berbisik membicarakan tentang Stiv.

“Hebat yah Stiv, padahal baru semalam ditinggalkan pacarnya yang pergi kuliah di Amerika tapi sudah ada gadis cantik yang menggantikan”, kata seorang teman sekelas Stiv.

“Iya, beruntungnya jadi Stiv”, balas temannya yang lain.

Melihat seisi kelas memperhatikan mereka, gadis tadi menjadi risih lalu berkata,”Oh iya aku sampai lupa memperkenalkan diri, namaku Rina salam kenal"

“Jadi namamu Rina yah, kalau aku Stiv. Mungkin kau sudah mengetahuinya lewat kartu mahasiswa di dompetku tapi tidak ada salahnya aku memperkenalkan diri”, jawab Stiv.

Setelah sedikit berbasa-basi, Rina kemudian pamit kembali ke kelasnya lalu kemudian berjalan menuju pintu kelas itu dan menghilang diantara mahasiswa lain yang lalu lalang di depan kelas tersebut.

Sejak kejadian itu mereka menjadi lebih sering bertemu entah itu di kampus maupun di jalan hingga akhirnya mereka mulai berteman akrab dan lama kelamaan tanpa mereka sadari mulai tumbuh cinta di antara mereka. Akan tetapi mereka saling menyimpan perasaan itu walau keduanya saling mencintai.

Suatu hari Stiv berencana menyatakan cintanya pada Rina dan setelah mempersiapkan semuanya, Stiv mengajak Rina pergi ke tempat yang sudah dipersiapkan sebelumnya yaitu tempat yang cukup romantis dan di tempat itulah Stiv menyatakan cintanya pada Rina.

“Rina aku tau ini bukan saat yang tepat tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu”, kata Stiv bersungguh-sungguh.

“Katakan saja, aku siap mendengarnya”, balas Rina penasaran.

“Sebenarnya aku sudah lama menyimpan perasaan ini padamu yaitu perasaan cinta yang kupendam sejak lama. Maukah kau menerima perasaan cintaku dan menjadi pacarku?”, tanya Stiv dengan jantung yang berdebar-debar karena takut cintanya ditolak.

Mendengar pernyataan cinta dari Stiv membuat Rina tertegun sejenak karena terkejut lalu kemudian berkata,” Maaf aku tidak bisa, aku tidak bisa menolak cintamu”

Jawaban Rina membuat Stiv melompat kesana-kemari karena kegirangan cintanya diterima oleh Rina. Rina yang memperhatikannya hanya tersenyum melihat tingkah laku Stiv yang menggelikan.

Kini mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih dan hari-hari mereka jalani dengan penuh kebahagiaan. Akan tetapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama karena beberapa hari kemudian Vira pacar Stiv yang ada di Amerika tiba-tiba menghubungi Stiv bahwa dia akan segera pulang ke Indonesia dan ingin bertemu dengan Stiv karena ingin mengatakan sesuatu yang penting.

Vira akhirnya tiba datang ke rumah Stiv dan berkata," Sayang mungkin hidupku sudah tidak lama lagi karena aku divonis dokter menderita gagal ginjal dan belum ada donor ginjal yang mau mendonorkan ginjalnya padaku jadi aku ingin menghabiskan waktu terakhirku bersamamu".

Stiv bingung harus berbuat apa karena di satu sisi ia telah mencintai Rina dan di sisi lain ia masih mencintai Vira.

Suatu hari Stiv diam-diam menemui dokter yang menangani Vira untuk mencari tahu kebenaran tentang penyakit Vira dan bilang bahwa ia bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Vira dan tanpa disengaja ia melihat biodata pasien yang menderita gagal ginjal yang sangat dikenalnya. Ternyata Rina juga menderita penyakit yang sama dengan Vira yaitu gagal ginjal yang membuatnya menjadi semakin bingung hingga akhirnya ia memutuskan mendonorkan kedua ginjalnya, satu untuk Rina dan satu untuk Vira.

“Itu tidak bisa kulakukan karena dengan mendonorkan ginjalmu maka itu sekaligus juga akan membuatmu kehilangan nyawamu”, kata dokter.

“Tapi dok, aku melakukan ini bukan tanpa alasan. Saat ini aku menderita penyakit kanker otak stadium 4 dan kata dokter yang menangani penyakitku, hidupku sudah tidak akan lama lagi” kata Stiv berbohong.

Setelah berdebat dengan dokter akhirnya disepakati untuk Stiv mendonorkan kedua ginjalnya sekaligus merahasiakan identitasnya sebagai pendonor sampai selesai proses operasi. Akhirnya Rina dan Vira dipanggil dokter untuk mengatakan kabar gembira kepada keduanya bahwa mereka sudah mempunyai pendonor yang akan mendonorkan ginjalnya pada mereka.

Hari operasi pun akhirnya tiba, baik Vira maupun Rina sama-sama menantikan seseorang yang sama yaitu Stiv yang tak kunjung hadir. Keduanya berharap agar bisa bahagia bersama Stiv apabila operasi berjalan dengan lancer tanpa mengetahui siapa yang mendonorkan ginjal pada mereka berdua.

Akhirnya operasi berjalan dengan lancer dan beberapa hari kemudian keadaan mereka telah stabil dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun sebelum pulang keduanya kemudian diminta menemui dokter karena ada hal peting yang harus dibicarakan pada mereka berdua yaitu tentang orang yang sudah mendonorkan ginjal pada mereka berdua dan kepada keduanya dibacakan sepucuk surat dari pendonornya yang berisi :

Untuk Vira dan Rina

Aku tahu aku salah karena mencintai kalian berdua dan aku juga salah karena tidak memberitahukan ini sebelumnya kepada kalian. Aku tidak tahu harus memilih salah satu di antara kalian karena cintaku pada kalian berdua sama besar. Tapi kumohon biarkanlah bagian tubuhku ini diam bersama kalian.
Maaf karena aku mencintai kalian berdua sekaligus.

Kumohon maafkanlah diriku . . .

Mungkin saat membaca surat ini aku sudah pergi untuk selama-lamanya namun biarkan cintaku ada di hati kalian. Kuatkan hati kalian karena aku yakin kita akan bertemu kembali di surga nanti.

Salam sayang
Stiv

Setelah mendengar surat tersebut mereka hanya bisa meneteskan airmata karena orang yang mereka cintai telah pergi untuk selama-lamanya karena telah berkorban untuk mereka berdua. Keduanya mulai menyalahkan diri sendiri karena pengorbanan Stiv.

“Maafkan aku Rina, mungkin kalau aku tidak pulang ke Indonesia kau pasti sudah hidup bahagia dengan Stiv”, kata Vira pada Rina.

“Ini semua bukan salahmu tapi ini adalah salahku karena sudah masuk ke kehidupan Stiv dan juga sudah merahasiakan penyakitku padanya”, balas Rina.

“Tidak usah menyalahkan diri sendiri, semua telah terjadi maka jalani kesempatan hidup lebih lama yang sudah diberikan pada kalian berdua” kata dokter menasehati.

Akhirnya walaupun dalam keadaan duka mendalam menyelubungi Rina dan Vira, keduanya menjalani kehidupan masing-masing bahkan keduanya menjadi teman akrab.

The End