"Dia atau Dirimu"
Penulis: Fundhy
Di
suatu malam yang sunyi di sebuah kota, terlihat seorang pemuda berjalan
seorang diri sambil mengikuti cahaya redup lampu jalanan sambil
sesekali menendang-nendang kaleng kosong yang berada di depannya. Dengan
wajah yang murung pemuda itu berjalan memasuki sebuah gang sempit
menuju ke sebuah tempat kost yang menjadi tempat tinggalnya selama
menuntut ilmu di kota itu.
Malam itu ia baru saja mengantar kekasih
yang sangat ia cintai ke bandara karena sang kekasih lebih memilih pergi
menuntut ilmu di Amerika.
Malam menjadi semakin hening saat pemuda
tersebut tanpa sadar meneteskan airmatanya walau tidak mengeluarkan
suara tangisan namun keheningan itu berubah saat ia mendengar suara
teriakan minta tolong yang tidak jauh dari gang tempatnya berada. Itu
adalah suara minta tolong dari seorang gadis yang diganggu oleh dua
orang preman yang biasa berkumpul di tempat itu mencari mangsa.
Tanpa
menunggu lama lagi, pemuda tersebut langsung berlari ke arah sumber
suara dan tanpa pikir panjang langsung menghajar kedua preman itu
hingga membuat kedua preman itu lari namun setelah menghajar kedua
preman tadi ia hanya berjalan terus tanpa mempedulikan gadis yang
ditolongnya.
"Terima kasih", ucap gadis itu namun pemuda tadi
tidak mempedulikan gadis tersebut bahkan mempercepat langkahnya dan
membuat gadis tadi terpaku memandanginya.
Setelah pemuda itu
menghilang di kegelapan malam, gadis itu yang masih terpaku memandang
penolongnya tersebut tersadar dan mulai melanjutkan perjalanannya tapi
langkahnya terhenti saat melihat sebuah dompet tergeletak begitu saja di
jalan. Tanpa menunggu lama lagi gadis itu mengambil dompet tersebut dan
melihat kartu mahasiswa yang ada di dalamnya.
"Jadi namanya
Stiv dan ternyata ia kuliah di tempat aku kuliah juga !! kalau begitu
besok aku akan mengembalikan dompet ini padanya", katanya dalam hati.
Keesokan
harinya kelas pemuda yang bernama Stiv itu menjadi ramai dengan
datangnya seorang gadis cantik yang mencarinya dan kini telah berada
tepat di depannya.
"Hai!! Kamu Stiv kan?”, kata gadis itu.
“I-iya,
tapi darimana kau mengetahui namaku?”, balas Stiv terbata saat seorang
gadis cantik yang belum dikenalnya mengetahui namanya.
“Oh itu,
aku ingin mengembalikan dompet ini padamu dan sekaligus mengucapkan
terima kasih karena semalam sudah menolongku", kata gadis itu sambil
mengambil sebuah dompet dari tasnya.
"Iya sama-sama aku juga
kebetulan lewat di jalan itu lalu mendengar suara teriakanmu jadi tanpa
pikir panjang lagi aku langsung pergi menolong", jawab Stiv.
“Tapi darimana kau mendapatkan dompetku? Aku sudah mencarinya kemana-mana” lanjut Stiv lagi.
“Dompetmu aku temukan di tempat kau menghajar preman semalam, aku memungutnya sesaat setelah kau pergi”, balas gadis itu.
“Begitu yah, aku tidak menyangka kalau dompetku terjatuh saat aku
menghajar preman itu dan juga aku minta maaf karena saat itu aku
mengacuhkanmu”, kata Stiv.
“Tidak apa-apa, aku tau saat itu kau sedang dalam masalah” balas gadis itu.
Melihat
percakapan kedua insan berlainan jenis itu membuat seisi kelas menjadi
heboh terutama laki-laki yang berada di kelas itu, mereka saling
berbisik membicarakan tentang Stiv.
“Hebat yah Stiv, padahal baru
semalam ditinggalkan pacarnya yang pergi kuliah di Amerika tapi sudah
ada gadis cantik yang menggantikan”, kata seorang teman sekelas Stiv.
“Iya, beruntungnya jadi Stiv”, balas temannya yang lain.
Melihat
seisi kelas memperhatikan mereka, gadis tadi menjadi risih lalu
berkata,”Oh iya aku sampai lupa memperkenalkan diri, namaku Rina salam
kenal"
“Jadi namamu Rina yah, kalau aku Stiv. Mungkin kau sudah
mengetahuinya lewat kartu mahasiswa di dompetku tapi tidak ada salahnya
aku memperkenalkan diri”, jawab Stiv.
Setelah sedikit
berbasa-basi, Rina kemudian pamit kembali ke kelasnya lalu kemudian
berjalan menuju pintu kelas itu dan menghilang diantara mahasiswa lain
yang lalu lalang di depan kelas tersebut.
Sejak kejadian itu
mereka menjadi lebih sering bertemu entah itu di kampus maupun di jalan
hingga akhirnya mereka mulai berteman akrab dan lama kelamaan tanpa
mereka sadari mulai tumbuh cinta di antara mereka. Akan tetapi mereka
saling menyimpan perasaan itu walau keduanya saling mencintai.
Suatu
hari Stiv berencana menyatakan cintanya pada Rina dan setelah
mempersiapkan semuanya, Stiv mengajak Rina pergi ke tempat yang sudah
dipersiapkan sebelumnya yaitu tempat yang cukup romantis dan di tempat
itulah Stiv menyatakan cintanya pada Rina.
“Rina aku tau ini bukan saat yang tepat tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu”, kata Stiv bersungguh-sungguh.
“Katakan saja, aku siap mendengarnya”, balas Rina penasaran.
“Sebenarnya
aku sudah lama menyimpan perasaan ini padamu yaitu perasaan cinta yang
kupendam sejak lama. Maukah kau menerima perasaan cintaku dan menjadi
pacarku?”, tanya Stiv dengan jantung yang berdebar-debar karena takut
cintanya ditolak.
Mendengar pernyataan cinta dari Stiv membuat
Rina tertegun sejenak karena terkejut lalu kemudian berkata,” Maaf aku
tidak bisa, aku tidak bisa menolak cintamu”
Jawaban Rina membuat
Stiv melompat kesana-kemari karena kegirangan cintanya diterima oleh
Rina. Rina yang memperhatikannya hanya tersenyum melihat tingkah laku
Stiv yang menggelikan.
Kini mereka telah resmi menjadi sepasang
kekasih dan hari-hari mereka jalani dengan penuh kebahagiaan. Akan
tetapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama karena beberapa hari
kemudian Vira pacar Stiv yang ada di Amerika tiba-tiba menghubungi Stiv
bahwa dia akan segera pulang ke Indonesia dan ingin bertemu dengan Stiv
karena ingin mengatakan sesuatu yang penting.
Vira akhirnya tiba
datang ke rumah Stiv dan berkata," Sayang mungkin hidupku sudah tidak
lama lagi karena aku divonis dokter menderita gagal ginjal dan belum ada
donor ginjal yang mau mendonorkan ginjalnya padaku jadi aku ingin
menghabiskan waktu terakhirku bersamamu".
Stiv bingung harus berbuat apa karena di satu sisi ia telah mencintai Rina dan di sisi lain ia masih mencintai Vira.
Suatu
hari Stiv diam-diam menemui dokter yang menangani Vira untuk mencari
tahu kebenaran tentang penyakit Vira dan bilang bahwa ia bersedia
mendonorkan ginjalnya untuk Vira dan tanpa disengaja ia melihat biodata
pasien yang menderita gagal ginjal yang sangat dikenalnya. Ternyata Rina
juga menderita penyakit yang sama dengan Vira yaitu gagal ginjal yang
membuatnya menjadi semakin bingung hingga akhirnya ia memutuskan
mendonorkan kedua ginjalnya, satu untuk Rina dan satu untuk Vira.
“Itu
tidak bisa kulakukan karena dengan mendonorkan ginjalmu maka itu
sekaligus juga akan membuatmu kehilangan nyawamu”, kata dokter.
“Tapi
dok, aku melakukan ini bukan tanpa alasan. Saat ini aku menderita
penyakit kanker otak stadium 4 dan kata dokter yang menangani
penyakitku, hidupku sudah tidak akan lama lagi” kata Stiv berbohong.
Setelah
berdebat dengan dokter akhirnya disepakati untuk Stiv mendonorkan kedua
ginjalnya sekaligus merahasiakan identitasnya sebagai pendonor sampai
selesai proses operasi. Akhirnya Rina dan Vira dipanggil dokter untuk
mengatakan kabar gembira kepada keduanya bahwa mereka sudah mempunyai
pendonor yang akan mendonorkan ginjalnya pada mereka.
Hari
operasi pun akhirnya tiba, baik Vira maupun Rina sama-sama menantikan
seseorang yang sama yaitu Stiv yang tak kunjung hadir. Keduanya berharap
agar bisa bahagia bersama Stiv apabila operasi berjalan dengan lancer
tanpa mengetahui siapa yang mendonorkan ginjal pada mereka berdua.
Akhirnya
operasi berjalan dengan lancer dan beberapa hari kemudian keadaan
mereka telah stabil dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun sebelum
pulang keduanya kemudian diminta menemui dokter karena ada hal peting
yang harus dibicarakan pada mereka berdua yaitu tentang orang yang sudah
mendonorkan ginjal pada mereka berdua dan kepada keduanya dibacakan
sepucuk surat dari pendonornya yang berisi :
Untuk Vira dan Rina
Aku
tahu aku salah karena mencintai kalian berdua dan aku juga salah karena
tidak memberitahukan ini sebelumnya kepada kalian. Aku tidak tahu harus
memilih salah satu di antara kalian karena cintaku pada kalian berdua
sama besar. Tapi kumohon biarkanlah bagian tubuhku ini diam bersama
kalian.
Maaf karena aku mencintai kalian berdua sekaligus.
Kumohon maafkanlah diriku . . .
Mungkin
saat membaca surat ini aku sudah pergi untuk selama-lamanya namun
biarkan cintaku ada di hati kalian. Kuatkan hati kalian karena aku yakin
kita akan bertemu kembali di surga nanti.
Salam sayang
Stiv
Setelah
mendengar surat tersebut mereka hanya bisa meneteskan airmata karena
orang yang mereka cintai telah pergi untuk selama-lamanya karena telah
berkorban untuk mereka berdua. Keduanya mulai menyalahkan diri sendiri
karena pengorbanan Stiv.
“Maafkan aku Rina, mungkin kalau aku tidak pulang ke Indonesia kau pasti sudah hidup bahagia dengan Stiv”, kata Vira pada Rina.
“Ini
semua bukan salahmu tapi ini adalah salahku karena sudah masuk ke
kehidupan Stiv dan juga sudah merahasiakan penyakitku padanya”, balas
Rina.
“Tidak usah menyalahkan diri sendiri, semua telah terjadi
maka jalani kesempatan hidup lebih lama yang sudah diberikan pada kalian
berdua” kata dokter menasehati.
Akhirnya walaupun dalam keadaan
duka mendalam menyelubungi Rina dan Vira, keduanya menjalani kehidupan
masing-masing bahkan keduanya menjadi teman akrab.
The End