Jumat, 25 Maret 2016

Cerita Karangan Oneshot: "Snow In Summer Spesial"

                                                   "Snow In Summer Spesial"


Penulis: Allupi




Snow in Summer Spesial

"Dia tidak pernah keluar rumah ya?"

Itulah kalimat yang kudengar darinya, sebuah kalimat yang mengguncang hatiku, seakan-akan rintikan hujan menimpaku. Kalimat itu memang sebuah fakta sekaligus menggambarkan hidupku, namun ada yang salah dari pertanyaannya, sebuah kalimat ambigu yang ia lontarkan tepat di telingaku. Sebenarnya tidak sepenuhnya diriku tidak keluar rumah dalam waktu 24 jam. Diriku perlu mencari cahaya matahari ketika pagi hari dan sore hari, diriku masih butuh ilmu hingga aku harus pergi ke Sekolah,


diriku masih harus bekerja untuk menafkahkan diriku seorang. Tapi mengapa mereka menganggapku tidak pernah pergi jalan-jalan? mengapa pula aku harus dikenal oleh banyak orang? aku tidak butuh itu! meskipun aku kenal, itu hanya akan membuang-buang waktuku, lagipula keinginan dan kemauanku pasti tidak akan pernah mereka ketahui, jalan pikiranku pasti tidak pernah mereka mengerti, meskipun aku mengenal mereka, pasti hobby kami akan bertentangan, bagaikan minyak dan air, itulah mengapa aku tidak ingin mengenal mereka.


"Di sekolah pasti kau tidak memiliki teman dan tidak ada yang mengajak dirimu berbicara?"

Sekali lagi pertanyaan berikutnya, ia teriakkan padaku. Untuk kedua kalinya pertanyaan ini sama ambigunya dengan pertanyaan yang pertama. Meski ada sedikit kebenaran dalam pengungkapannya. Jujur saja kalau diriku berada di Sekolah, pasti selalu ada yang berbicara padaku, walau yang kita bicarakan hanya seputar tugas sekolah atau sekedar menyakan jawaban dari soal yang diberikan guru. Oh iya, Satu lagi ingat, diriku di Sekolah tidak akan ada yang tidak mengajakku berbicara, karena coba saja kamu bayangkan, seseorang atau seorang guru yang sedang mengajar lalu bertanya padaku, apa itu bukan suatu komunikasi? itu adalah sebuah komunikasi atau seseorang berbicara padaku dan menanyakan benda miliknya hilang padaku, namun aku tidak tahu apa yang ia maksud, lalu aku menggeleng-gelengkan kepala, dan orang yang bersangkutan mengerti maksudku, apa itu bukan sebuah komunikasi? itu adalah sebuah komunikasi. Yah, kesekian kalinya aku membenarkan sebuah fakta bahwa diriku di Sekolah, tidak ada yang tidak akan mengajakku berbicara. Lalu, soal teman? heyy, kamu! iya, kamu! kamu yang sedang membaca cerita ini, bukankah kita teman? (Kalau memang bukan teman juga gapapa, yang penting bukan musuh. Hehe). Nah, bagaimana menurutmu? aku punya temankan? dan itu berarti diriku di sekolah memiliki banyak teman, teman dari tiap kelas dan seluruh manusia, hewan dan tumbuhan adalah temanku. Bagaimana, apa kamu masih ingin bertanya dengan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya padaku? kalau iya, jawaban inilah yang akan selalu kuberikan padamu, namun jika dirimu melontarkan sebuah pertanyaan yang berbeda, diriku siap menjawab dengan jawaban yang berbeda pula. Kedua pertanyaan ambigu itu harus segera kulenyapakan dari dalam jiwanya. Sebuah pembasmi kebusukan hati di dalam dirinya.

"Manusia kamar!!"

Wut?!' Apa itu manusia kamar?

Umm, aku tak ingin menjawabnya, karena tidak akan terjadi kontroversi apapun jika aku tidak menjawabnya. Bentakan dari kalimat itu, adalah sebuah julukan yang diberikannya untuk diriku. Dia, iya dia yang dari awal memberikan pertanyaan ambigu padaku, akhirnya ia membentakku dengan sebuah kalimat kebenaran dan ada yang melenceng sedikit sebenarnya. Manusia kamar, oh manusia kamar ooooo... Sebenarnya julukan itu tidak pantas untuk diriku! mengapa? ia tidak berhak memberiku julukan seperti itu, tanpa tahu diriku mau atau tidak! lalu, aku diciptakan hanya sebagai manusia, bukan sebagai manusia-kamar. Kalau kalian tahu definisi dari kedua kata tersebut pasti pahamlah. Yang pertama, manusia. Manusia adalah ciptaan Allah, sedangkan kamar adalah ciptaan tangan manusia lalu mengapa aku dikaitkan dengan ciptaan tangan manusia? saat ini aku sungguh ingin tertawa, manusia lucu ya, imajinasi liar mereka terkadang hadir tanpa mereka sadari. Oh iya, tentang manusia kamar itu, sebenarnya aku bukanlah manusia kamar, hanya saja aku lebih sering berada dikamar//

"Pecandu Internet"

FAKTA!! ucapan yang ia lontarkan untuk kesekian kalinya, kali ini benar. Mengapa? karena aku memang telah kecanduan, tapi tenang saja kok bukan hanya aku seorang melainkan ada berjuta-juta, bahkan beratusan miliyar orang didunia ini, telah kecanduan internet. Aku pernah berpikir sih ingin berhenti internetan, namun aku seperti orang gila, hidup tanpa jangkawan alat canggih itu, handphone. Lalu sebenarnya bukan itu, kerap kali aku merasa bosan dengan dunia ini, sehingga aku harus pergi ke dunia maya, dimana semuanya dapat aku jalankan semau diriku, disana aku tidak takut bersalah, tidak takut akan merasa kehampaan dunia ini. Satu lagi, internet itu dapat membuat hobby ku terpenuhi, tanpa internet, hobby dan jati diriku perlahan-lahan akan memudar dan hilang. Apa itu hobbyku? Download anime sepertinya, karena sebenarnya dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin membeli DVD original dibanding harus download, namun aku masih anak sekolah yang belum punya penghasilan sendiri, sehingga uang yang kudapat hanya bisa kumanfaatkan sebutuh-butuhnya untuk makan dan membeli kuota internet (miris banget ya).

***

"Hoam,,,"

Aku pun terbangun dari hamparan hijau, aku memandangi setiap lukisan yang sebenarnya pemandangan dunia nyata. Aku bersandar di bawah pohon yang menemaniku sedari aku berbaring, aku terus saja memandangi ranting yang berayunan, ranting yang hampir tumbang.

"Mengapa aku memikirkan kalimat yang Kisame lontarkan sebelumnya padaku? apakah ini yang dinamakan baper?'" gumamku.

Namun dari arah yang tidak terlalu jauh, seorang lelaki cakep, berlari mendekatiku, melambaikan tangan kanannya padaku sambil memanggil-manggil namaku.

"Taniko!! Taniko!!"

Ia sampai ditempatku bersenandung, lalu duduk di sebelahku, segera aku menyapa dirinya.

"Konnichiwa, Hoshi"

Kuucapkan kalimat pertama padanya dengan senyuman yang khas.

"Konichiwa, Taniko"

Hoshi membalas sapaanku.

"Taniko aku mencarimu kemana-mana, aku kira kau pergi sangat jauh"
"Aku tidak pergi kemana-mana. Aku hanya datang ketempat ini seperti biasa. Kau tahu tempat apa yang paling menyenangkan sekaligus membuatku bahagia?"
"Tepi Danau?"

Hoshi menebak-nebak pertanyaanku.

"Tepat! Tepat sekali aku suka tempat ini, apa kamu masih ingat saat kita masih kecil dulu dan pertama kali menemukan tempat ini?"

Hoshi mulai berdiskusi pada pikirannya, dan membuka satu per satu memory yang ia ingat.
***
Saat itu aku sedang bermain petak umpat dengan Taniko, dan kini giliran aku yang berjaga dan mencarinya.

"Taniko?? Taniko kamu dimana?"

Aku terus mencari Taniko, namun Taniko tak mengeluarkan sepatah kata apapun padaku. Lalu aku terus mencari dirinya sampai ketemu, sudah hampir 30 menit aku mencarinya, namun aku belum berhasil menemukan Taniko, aku pun mulai khawatir.

"Taniko kamu dimana? Taniko keluarlah, aku menyerah! Taniko?"

Aku masih berteriak-teriak, dan sampailah di Danau ini, dan aku pun menangis di sana.

"Taniko kelurlah?"

"Hoshi!!"

Terdengar panggilan nama Hoshi dari arah yang tidak jauh. Itu adalah suara Taniko.

"Taniko?"
"Taniko kamu dimana? keluarlah aku sudah menyerah!"
"Aku disini!"
"Di mana?"
"Tengok ke atas pohon !"

Hoshi mengusap air matanya dan kepalanya menengadah ke atas.

"Hoshi, aku mau turun, tangkap aku!"

Taniko meluncurkan tubuhnya kebawah dan segera kutangkap, dan terjadilah kelelahan yang amat kurasakan, aku dan Taniko berbaring di tepi danau dan dekat pohon besar (sekarang pohonnya sudah berumur).

"Hoshi tempat ini indah ya? sungguh sunyi tidak ada kebisingan orang seperti orang-orang yang berada di pusat toko pembelanjaan"
"Kau benar Taniko, tempat ini sungguh sangat damai"

Aku dan Taniko merasakan hembusan angin yang memasuki relung kalbu.

"Hoshi, kita jadikan tempat ini sebagai markas kita untuk berjumpa ya?"
"Baik!!"
***
"Iya aku ingat!"

Hoshi mengingat masa lalu. Kami pun mulai bercerita tentang masa kanak-kanak, membuat lelucon sehingga kami tertawa, mengingat bagaimana pertama kalinya aku melihat Hoshi menangis karena mengkhawatirkan diriku dulu. Hal yang paling menyenangkan saat itu, kami masih polos dan lugu, dan hal yang mengejutkan adalah bahwa Kisame sedang dikandung oleh Ny. Ichiyusei, ibuku.

"Terkadang mengingat masa lalu membuat kita bahagia namun mengingat masa lalu juga sering kali membuat kita sedih"

Taniko mengingat kejadian dimana dirinya berdebat dengan Kisame tentang Hoshi.

"Mbak, itu anak perumahan! Mbak itu tidak punya teman! Mbak adalah manusia kamar dan Mbak adalah seorang pecandu internet!" Yah, begitulah yang Taniko ingat.

"Kenangan terkadang membuat kita bahagia, tapi ada juga yang membuat kita sedih"

The end