"Snow In Summer Spesial"
Penulis: Allupi
Snow in Summer Spesial
"Dia tidak pernah keluar rumah ya?"
Itulah
kalimat yang kudengar darinya, sebuah kalimat yang mengguncang hatiku,
seakan-akan rintikan hujan menimpaku. Kalimat itu memang sebuah fakta
sekaligus menggambarkan hidupku, namun ada yang salah dari
pertanyaannya, sebuah kalimat ambigu yang ia lontarkan tepat di
telingaku. Sebenarnya tidak sepenuhnya diriku tidak keluar rumah dalam
waktu 24 jam. Diriku perlu mencari cahaya matahari ketika pagi hari dan
sore hari, diriku masih butuh ilmu hingga aku harus pergi ke Sekolah,
diriku masih harus bekerja untuk menafkahkan diriku seorang. Tapi
mengapa mereka menganggapku tidak pernah pergi jalan-jalan? mengapa pula
aku harus dikenal oleh banyak orang? aku tidak butuh itu! meskipun aku
kenal, itu hanya akan membuang-buang waktuku, lagipula keinginan dan
kemauanku pasti tidak akan pernah mereka ketahui, jalan pikiranku pasti
tidak pernah mereka mengerti, meskipun aku mengenal mereka, pasti hobby
kami akan bertentangan, bagaikan minyak dan air, itulah mengapa aku
tidak ingin mengenal mereka.
"Di sekolah pasti kau tidak memiliki teman dan tidak ada yang mengajak dirimu berbicara?"
Sekali
lagi pertanyaan berikutnya, ia teriakkan padaku. Untuk kedua kalinya
pertanyaan ini sama ambigunya dengan pertanyaan yang pertama. Meski ada
sedikit kebenaran dalam pengungkapannya. Jujur saja kalau diriku berada
di Sekolah, pasti selalu ada yang berbicara padaku, walau yang kita
bicarakan hanya seputar tugas sekolah atau sekedar menyakan jawaban dari
soal yang diberikan guru. Oh iya, Satu lagi ingat, diriku di Sekolah
tidak akan ada yang tidak mengajakku berbicara, karena coba saja kamu
bayangkan, seseorang atau seorang guru yang sedang mengajar lalu
bertanya padaku, apa itu bukan suatu komunikasi? itu adalah sebuah
komunikasi atau seseorang berbicara padaku dan menanyakan benda miliknya
hilang padaku, namun aku tidak tahu apa yang ia maksud, lalu aku
menggeleng-gelengkan kepala, dan orang yang bersangkutan mengerti
maksudku, apa itu bukan sebuah komunikasi? itu adalah sebuah komunikasi.
Yah, kesekian kalinya aku membenarkan sebuah fakta bahwa diriku di
Sekolah, tidak ada yang tidak akan mengajakku berbicara. Lalu, soal
teman? heyy, kamu! iya, kamu! kamu yang sedang membaca cerita ini,
bukankah kita teman? (Kalau memang bukan teman juga gapapa, yang penting
bukan musuh. Hehe). Nah, bagaimana menurutmu? aku punya temankan? dan
itu berarti diriku di sekolah memiliki banyak teman, teman dari tiap
kelas dan seluruh manusia, hewan dan tumbuhan adalah temanku. Bagaimana,
apa kamu masih ingin bertanya dengan pertanyaan yang sama untuk kedua
kalinya padaku? kalau iya, jawaban inilah yang akan selalu kuberikan
padamu, namun jika dirimu melontarkan sebuah pertanyaan yang berbeda,
diriku siap menjawab dengan jawaban yang berbeda pula. Kedua pertanyaan
ambigu itu harus segera kulenyapakan dari dalam jiwanya. Sebuah pembasmi
kebusukan hati di dalam dirinya.
"Manusia kamar!!"
Wut?!' Apa itu manusia kamar?
Umm,
aku tak ingin menjawabnya, karena tidak akan terjadi kontroversi apapun
jika aku tidak menjawabnya. Bentakan dari kalimat itu, adalah sebuah
julukan yang diberikannya untuk diriku. Dia, iya dia yang dari awal
memberikan pertanyaan ambigu padaku, akhirnya ia membentakku dengan
sebuah kalimat kebenaran dan ada yang melenceng sedikit sebenarnya.
Manusia kamar, oh manusia kamar ooooo... Sebenarnya julukan itu tidak
pantas untuk diriku! mengapa? ia tidak berhak memberiku julukan seperti
itu, tanpa tahu diriku mau atau tidak! lalu, aku diciptakan hanya
sebagai manusia, bukan sebagai manusia-kamar. Kalau kalian tahu definisi
dari kedua kata tersebut pasti pahamlah. Yang pertama, manusia. Manusia
adalah ciptaan Allah, sedangkan kamar adalah ciptaan tangan manusia
lalu mengapa aku dikaitkan dengan ciptaan tangan manusia? saat ini aku
sungguh ingin tertawa, manusia lucu ya, imajinasi liar mereka terkadang
hadir tanpa mereka sadari. Oh iya, tentang manusia kamar itu, sebenarnya
aku bukanlah manusia kamar, hanya saja aku lebih sering berada
dikamar//
"Pecandu Internet"
FAKTA!! ucapan yang ia
lontarkan untuk kesekian kalinya, kali ini benar. Mengapa? karena aku
memang telah kecanduan, tapi tenang saja kok bukan hanya aku seorang
melainkan ada berjuta-juta, bahkan beratusan miliyar orang didunia ini,
telah kecanduan internet. Aku pernah berpikir sih ingin berhenti
internetan, namun aku seperti orang gila, hidup tanpa jangkawan alat
canggih itu, handphone. Lalu sebenarnya bukan itu, kerap kali aku merasa
bosan dengan dunia ini, sehingga aku harus pergi ke dunia maya, dimana
semuanya dapat aku jalankan semau diriku, disana aku tidak takut
bersalah, tidak takut akan merasa kehampaan dunia ini. Satu lagi,
internet itu dapat membuat hobby ku terpenuhi, tanpa internet, hobby dan
jati diriku perlahan-lahan akan memudar dan hilang. Apa itu hobbyku?
Download anime sepertinya, karena sebenarnya dari dalam lubuk hatiku
yang paling dalam, aku ingin membeli DVD original dibanding harus
download, namun aku masih anak sekolah yang belum punya penghasilan
sendiri, sehingga uang yang kudapat hanya bisa kumanfaatkan
sebutuh-butuhnya untuk makan dan membeli kuota internet (miris banget
ya).
***
"Hoam,,,"
Aku pun terbangun dari hamparan
hijau, aku memandangi setiap lukisan yang sebenarnya pemandangan dunia
nyata. Aku bersandar di bawah pohon yang menemaniku sedari aku
berbaring, aku terus saja memandangi ranting yang berayunan, ranting
yang hampir tumbang.
"Mengapa aku memikirkan kalimat yang Kisame lontarkan sebelumnya padaku? apakah ini yang dinamakan baper?'" gumamku.
Namun
dari arah yang tidak terlalu jauh, seorang lelaki cakep, berlari
mendekatiku, melambaikan tangan kanannya padaku sambil memanggil-manggil
namaku.
"Taniko!! Taniko!!"
Ia sampai ditempatku bersenandung, lalu duduk di sebelahku, segera aku menyapa dirinya.
"Konnichiwa, Hoshi"
Kuucapkan kalimat pertama padanya dengan senyuman yang khas.
"Konichiwa, Taniko"
Hoshi membalas sapaanku.
"Taniko aku mencarimu kemana-mana, aku kira kau pergi sangat jauh"
"Aku
tidak pergi kemana-mana. Aku hanya datang ketempat ini seperti biasa.
Kau tahu tempat apa yang paling menyenangkan sekaligus membuatku
bahagia?"
"Tepi Danau?"
Hoshi menebak-nebak pertanyaanku.
"Tepat!
Tepat sekali aku suka tempat ini, apa kamu masih ingat saat kita masih
kecil dulu dan pertama kali menemukan tempat ini?"
Hoshi mulai berdiskusi pada pikirannya, dan membuka satu per satu memory yang ia ingat.
***
Saat itu aku sedang bermain petak umpat dengan Taniko, dan kini giliran aku yang berjaga dan mencarinya.
"Taniko?? Taniko kamu dimana?"
Aku
terus mencari Taniko, namun Taniko tak mengeluarkan sepatah kata apapun
padaku. Lalu aku terus mencari dirinya sampai ketemu, sudah hampir 30
menit aku mencarinya, namun aku belum berhasil menemukan Taniko, aku pun
mulai khawatir.
"Taniko kamu dimana? Taniko keluarlah, aku menyerah! Taniko?"
Aku masih berteriak-teriak, dan sampailah di Danau ini, dan aku pun menangis di sana.
"Taniko kelurlah?"
"Hoshi!!"
Terdengar panggilan nama Hoshi dari arah yang tidak jauh. Itu adalah suara Taniko.
"Taniko?"
"Taniko kamu dimana? keluarlah aku sudah menyerah!"
"Aku disini!"
"Di mana?"
"Tengok ke atas pohon !"
Hoshi mengusap air matanya dan kepalanya menengadah ke atas.
"Hoshi, aku mau turun, tangkap aku!"
Taniko
meluncurkan tubuhnya kebawah dan segera kutangkap, dan terjadilah
kelelahan yang amat kurasakan, aku dan Taniko berbaring di tepi danau
dan dekat pohon besar (sekarang pohonnya sudah berumur).
"Hoshi tempat ini indah ya? sungguh sunyi tidak ada kebisingan orang seperti orang-orang yang berada di pusat toko pembelanjaan"
"Kau benar Taniko, tempat ini sungguh sangat damai"
Aku dan Taniko merasakan hembusan angin yang memasuki relung kalbu.
"Hoshi, kita jadikan tempat ini sebagai markas kita untuk berjumpa ya?"
"Baik!!"
***
"Iya aku ingat!"
Hoshi
mengingat masa lalu. Kami pun mulai bercerita tentang masa kanak-kanak,
membuat lelucon sehingga kami tertawa, mengingat bagaimana pertama
kalinya aku melihat Hoshi menangis karena mengkhawatirkan diriku dulu.
Hal yang paling menyenangkan saat itu, kami masih polos dan lugu, dan
hal yang mengejutkan adalah bahwa Kisame sedang dikandung oleh Ny.
Ichiyusei, ibuku.
"Terkadang mengingat masa lalu membuat kita bahagia namun mengingat masa lalu juga sering kali membuat kita sedih"
Taniko mengingat kejadian dimana dirinya berdebat dengan Kisame tentang Hoshi.
"Mbak,
itu anak perumahan! Mbak itu tidak punya teman! Mbak adalah manusia
kamar dan Mbak adalah seorang pecandu internet!" Yah, begitulah yang
Taniko ingat.
"Kenangan terkadang membuat kita bahagia, tapi ada juga yang membuat kita sedih"
The end