Selasa, 15 Maret 2016

Cerita Karangan Oneshot: Payung Petaka

                                                                           ~  "Payung Petaka" ~









“Menyebalkan”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Bagaimana tidak, ingin melepas penat setelah seharian menjalani serangkaiauy
n pelajaran yang membosankan, aku kini malah terjebak di sebuah toko karena hujan yang dengan derasnya menggur tempatku tinggal.

“Padahal aku hanya ingin jalan-jalan, tapi kurasa aku tidak punya pilihan lain.”

Ya, dan satu-satunya pilihan yang ada hanyalah pulang.

Tapi bagaimana caranya?



Karena tidak pernah menyangka akan hujan, aku tidak membawa payung. Aku juga tidak membawa uang.

Rintik-rintik hujan yang seharusnya menjadi berkah untuk sebagian besar orang itu, kini malah terasa seperti kutukan untukku. Jika dipikir-pikir lagi, mungkin inilah yang disebut kesialan. Jika boleh berharap, aku berharap akan ada malakat baik hati yang akan datang memberikan pertolongan untukku.

Dan bingo! Aku melihat seorang anak perempuan yang mungkin berusia kurang lebih 12 tahun sedang berdiri di teras depan toko ini. Tidak hanya itu, ia juga mengenakan sebuah jas hujan dengan sebuah payung merah tergeletak disampingnya. Menari-nari ditengah guyuran hujan, itulah yang ia lakukan.

Sangat bersemangat seolah ini terakhir kalinya dia melakukan hal ini.

Tapi….


….. aku tidak pernah menyangka harapanku akan terkabul secepat ini.

Aku tidak tau siapa dia dan dimana orang tuanya, tapi aku tau satu hal yang pasti, dia adalah malaikat keberuntunganku yang akan membebaskanku dari penderitaanku hari ini.

Membawa payung seperti itu tidak ada gunanya bukan jika sudah memakai jas hujan seperti itu, jadi sebagai remaja SMA yang baik, aku akan mengambil benda itu. Ya, paling tidak itulah yang kubisikkan pada diriku sendiri saat akan mengambil (baca Mencuri) payung itu.

Perlahan tapi pasti, aku mendekati gadis kecil itu. Hal itu terasa mudah karena posisiku yang berada dibelakang agak kiri dari posisinya, dan saat keadaan sudah mendukung langsung saja kuambil payung itu dan-

“Dapat!”

“Ehh…”

Entah mengapa sifat kekanak-kanakanku muncul di saat seperti ini, rasanya aku ingin memukul kepalaku sendiri akan apa yang baru saja kukacaukan hari ini. Tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan inilah, aku lebih memilih untuk memikirkan apa yang akan terjadi padaku setelah ini.

Aku sudah berakhir….

Aku memang cukup ragu akan keberuntungan ini, tapi tak kusangka keberuntungan ini hanyalah jebakan. Ya, jebakan menuju kesialanku yang lain.

Selesai sudah ceritaku ini. Ya, selesai dengan sad ending dimana aku akan berakhir menderita.

Sial, padahal aku bukanlah tokoh Antagonis disini. Tunggu dulu, bukankah sejak awal tidak ada tokoh Antagonis maupun Protagonisnya. Tapi….

MANA MUNGKIN AKU AKAN MEMBIARKAN HAL ITU TERJADI!

Merespon apa yang aku inginkan, gear-gear yang ada diotakku langsung bekerja untuk membuat perintah mengenai tindakan apa yang harus kulakukan selanjutnya dan setelah selesai, ia langsung menggerakkan seluruh syaraf yang ada ditubuhku untuk mematuhinya, dan tindakan itu adalah Lari.

Aku bukanlah orang bodoh yang tidak tau apa yang akan terjadi padaku jika aku ketahuan mengambil payung anak kecil ini. Ya, sudah jelas jika aku akan berakhir di kantor polisi atau mungkin lebih buruk seperti dipukuli warga sekitar, di-

Sudah cukup, aku tidak ingin membayangkan cara kematianku.

Meski kudengar dia sempat berteriak, tapi aku tidak perduli lagi.

Ya, cukup berlari dan berlari.

.
.
.
.
.
“Hah… Hah… Hah…”

"Sungguh memalukan."

Rasanya aku ingin tertawa jika mengingat kejadian tadi, kejadian yang membuatku seolah-olah terlihat tidak berguna.

Kini, aku berteduh di didepan sebuah toko yang mungkin tutup karena tangisan langit pada hari ini. Dengan baju yang sebagian besar basah serta nafas yang terengah-engah karena berlari tadi, aku mencoba mendinginkan kepalaku. Guruku pernah berkata, jika kita harus melakukan hal-hal hebat untuk bisa diceritakan pada anak cucu kita nanti. Tapi mengingat apa yang kulakukan pada gadis kecil tadi, aku hanya mampu tersenyum sedih.

Hey, coba bayangkan jika kau menceritakan hal yang memalukan tadi pada anak cucumu. Entah apa respon mereka, mungkin saja kau akan dieksekusi ditempat.

Oke, kurasa aku harus ke Pskiater setelah ini....

Tapi, kurasa keberuntunganku hari ini memang buruk. Tidak, kurasa buruk masih tidak sesuai tapi… jika kau menambahkan kata sangat sebanyak sepuluh kali sebelum kata buruk, kurasa itu baru benar.

.
.
.

"Jadi gadis manis, siapa namamu?" dengan tersenyum manis (baca : palsu) aku mengatakan hal ini pada gadis kecil yang ada didepanku saat ini. Yah, meskipun, kata Iblis kecil lebih cocok. Bagaimana tidak, dengan usia yang kira-kira 12 tahun ini, ia sudah bisa memerasku di restoran yang terbilang mahal ini. Kenapa?

Singkat cerita, gadis kecil ini mampu menemukanku yang sudah berlari cukup jauh darinya. Tidak hanya itu, ia juga menyuruhku untuk mengembalikan payungnya. Dan karena sudah lelah bermain kejar-kejaran dengannya, aku pun tidak menolak. TAPI yang membuatku syok adalah gadis kecil ini meminta kompensasi alias ganti rugi kepadaku, bahkan ia sempat akan berteriak jika aku menolak. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.

Padahal dia hanya anak kecil yang berumur 12 tahun.

"Bukankah tidak sopan jika menanyakan nama orang lain tanpa mengenalkan diri terlebih dahulu."

Serangan pertama.

Aku masih saja memasang senyum, meski telah mendengar kalimat datar namun terkesan sinis itu. Padahal tadi aku hanya ingin mencairkan suasana yang tadinya canggung.

"Kuro Kagami, Jadi siapa namamu?" berharap mendadapat respon yang lebih baik, namun yang kudapat hanya tatapan tajam darinya. Apalagi sikap ditunjukannya saat ini, sikap dimana ia menaruh kedua tangannya didagu lalu menatapku dengan tatapan menganalisa. Tapi tatapan itu terasa menakutkan, hingga seolah-olah ia mengulitiku.

“Kuro Kagami…. Hm, pada awalnya kupikir nama palsu, tapi setelah melihat warna rambut dan matamu yang sama-sama hitam aku percaya. Benar-benar cocok, namamu hitam seperti hatimu.”

-Guhh-

Serangan kedua.

Menghembuskan nafas sejenak, ia lalu menjawab pertanyaanku.

"Alice, hanya itu yg bisa kuberitahukan."

"kenapa?" karena bingung, reflek aku mengangkat salah satu alisku.

"Ibuku pernah bilang untuk menjauhi orang asing, apalagi seorang remaja tidak tau diri seperti Kau ini."

Sebuah serangan ketiga, kali ini lebih menyakitkan. Apalagi nada penuh penekanan diakhir kalimat itu.

"Aku-"

"Tidak tau diri mungkin kurang tepat, lebih tepatnya adalah pencuri tidak tau diri"
Aku pun mencoba menyangkalnya lagi, meskipun malah serangan keempat yang kudapatkan.

"Baik-baik, aku mengaku salah tapi setidaknya panggilah aku dengan namaku, karena kata Kau itu terdengar kurang enak. Jad-"

Seolah sudah mengetahui apa yang ingin kukatakan, ia langsung memotong perkataanku.

"Tidak hanya itu, setelah apa yang terjadi kau malah ingin menyuruhku menanggilmu
Nii-san, dasar tidak tau diri. Apa mungkin kau berfikir ini adalah setting sebuah novel, dimana aku adalah adikmu yang memiliki sifat Brocon, dasar tidak tau diri"

Tidak, aku tidak senista itu

"Apa mungkin kau seorang lolicon"

"jika bukan, apakah kau seorang JONES yang berharap jika mencuri payungku akan membuatmu mendapat keberuntungan alias pacar?"

“Dasar me-”

Sudah cukup, aku menyerah.

Setelah beberapa serangan beruntun itu, aku terlalu syok untuk mendengar kelanjutannya. Bisa kukatakan jika lidahnya itu seperti pistol, ya pistol yang menembakkan pelurunya menembus seluruh jaringan syarafku lalu bersarang tepat dihatiku.

Kenapa pistol? Karena pedang atau tombak sudah sangat Mainstream bukan?

Karena itu aku menyerah! Kututup mataku, mencoba menulikan telingaku sebisa mungkin.

Jika ini sebuah Anime, dikepalaku pasti akan ada aura suram level dewa yang akan membuatku terlihat menyedihkan. Tapi sayang, ini bukanlah sebuah Anime….. ini hanya rangkaian peristiwa buruk yang menimpaku.

Ah sudahlah, aku memang harus ke psikiater sesudah ini. Tapi sebelum itu,

"Darimana kau belajar kata-kata itu?" merasa tidak ada lagi tembakan darinya, aku mencoba mencari topic pembicaran yang aman.

" Aku belajar dari buku-buku yang ku baca."

"Kau banyak waktu ya?"

"Um, karena karena aku terbiasa sendiri maka aku sering menenggelamkan diri pada buku." Akhirnya aku bisa membawa Alice keluar dari zona serangnya, tapi fakta bahwa ia mempelajari kata-kata berat itu dari buku cukup membuatku sedih. Hey, menurutmu buku macam apa yang mengajarinya hal itu. Lalu buku apa yang ia baca, Itu juga masih menjadi misteri untukku.

Pembicaraan kami terus berlanjut, mulai dari pembicaraan penting hingga tidak penting. Kami saling menyelami satu sama lain, terkadang pendapat kami sama. Namun sering kali berbeda, seperti kali ini.

"Apa aku mengatakan hal yang salah?"

Dapat kurasakan keringat dingin mengalir di punggungku mendengar nada takut-takut darinya. Bagaimana tidak? Alice, gadis kecil didepanku ini dapat merubah ekspresinya sesuka hati. Apa mungkin dia punya banyak kepribadian? Hm, misteri misteri

Tapi, apa mungkin tadi aku menunjukkan wajah muram? Jika iya, satu lagi poin negatif untukku. Tapi, ternyata kalah dalam sebuah adu argument tidaklah menyenangkan. Tidak, bukan karena itu. Tapi lebih ke kata-kata yang dia ucapkan, begitu menusuk.

"Jadi kau benar-benar marah ya... Kalau be-begitu, ini sebagai permintaan maafku." Tenggelam dalam lamunanku sendiri malah membuat situasi semakin rumit dan mungkin karena Alice merasa bersalah, ia memberikanku sesuatu yang berbentuk mirip dengan sebuah buku, atau mungkin memang sebuah buku.

"Eh, tidak perlu kok-" kata-kataku tersangkut di tenggorokan ketika melihat kembali wajahnya. Mata coklat madunnya berkaca-kaca dan wajahnya memerah seolah menahan tangis, sehingga dapat kupastikan jika ia akan menangis jika kutolak benda pemberiannya itu.

Kurasa aku tidak punya pilihan lain.

"kalau begitu, terima-" sekali lagi kata-kataku tersangkut di tenggorokan ketika baru saja memegang buku itu.

Apa yang Alice berikan adalah sebuah komik, sesuatu yang wajar untuk anak seusianya.

Seharusnya, aku berkomentar seperti itu. Tapi, setelah melihat sampulnya. Aku tak bisa menahan diri untuk menjatuhkan bahuku, tersenyum hambar untuk untuk menutupi rasa ketidakpercayaan yang muncul.

Kenapa anak kecil sepertinya mempunyai buku seperti ini?

Aku berteriak dalam hati, kenapa buku dengan sampul dua orang laki-laki yang sebaiknya tidak usah kujelaskan ini ada ditangannya. Dan yang lebih penting, buku itu sekarang berada ditanganku. Jika seseorang melihat-

"Silahkan pilih menu yang tersedia didaftar." Pemikiranku terhenti ketika akhirnya seorang pelayan datang membawakanku buku menu restoran ini.

Aku sudah berakhir.

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum hambar sambil menerima buku itu. Aku tidak berani menatap wajah pelayan itu, bagaimanapun dari nada yang ia gunakan saja, aku seolah bisa mendengar jika ia berkata: Dasar aneh dan menjijikkan

"Tolong pesankan aku juga, makanan apa pun boleh asalkan enak." Tak memperdulikan keadaanku, Alice malah dengan riangnya membuat permintaan.

Padahal, ia bilang jika ini tanda maafnya. Tapi, lagi-lagi aku tertipu

Situasi ini, bagaimana mengatakannya ya? Aku seperti baru saja diterbangkan keatas awan, tapi kemudian... aku terjatuh tanpa rem. Dan tempatku mendarat adalah Neraka

"Terima kasih, silahkan tunggu sebentar!" setelah mencatat pesanan kami, ia lalu pergi. Tapi aku masih tidak berani menatap wajah pelayan itu.

"Boleh aku bertanya satu hal?" Sambil menunggu pesanan datang, Alice bertanya dengan tiba-tiba

Apa yang terjadi? Entah mengapa nada bicaranya kali ini berbeda

Nada itu, benar-benar berbeda dengan yang tadi. Jika sebelumnya ia menggunakan nada datar, sinis, dan penuh percaya diri yang tidak cocok untuk anak seusianya, kali ini yang kudengar adalah nada dengan sebuah keraguaan di dalamnya. Tapi, aku juga tak ingin ambil pusing akan hal itu. Jadi, aku langsung menjawab seadanya.

"Tentu, kenapa tidak!?"

"Apa pendapatmu jika kau hidup di dalam sangkar emas?" pertanyaan ambigu, tapi cukup jelas bagiku.

Apa mungkin ia adalah anak berkecukupan namun terkekang dan kesepian lalu berfikir jika hidup bebas di luar adalah yang terbaik? Aku tidak tau, atau lebih tepatnya tidak ingin tau.

Ia masih putih, masih polos akan dunia luar, dunia yang tidak akan menunjukkan belas kasihannya bahkan pada anak kecil sepertinya, juga dunia yang juga pernah mendepakku sekali. Namun, tentu saja aku tidak ingin mengatakan hal itu

"Aku pasti akan senang" ya, tentu semua orang akan merasa begitu

"Tapi….. pasti lama-kelamaan aku akan merasa bosan. Jadi, ketika waktunya tiba aku akan keluar dan terbang bebas dilangit dengan sayapku"

"Pasti enak ya, bisa terbang bebas di langit" kali ini raut wajahnya juga terlihat sedih

"kau pun juga bisa terbang bebas dilangit"

"Benarkah?" tanyanya dengan semangat, sedangkan aku hanya mengangguk mengiyakan

"kau hanya butuh persiapan"

"persiapan?" mungkin karena bingung, ia bertanya sambil memiringkan kepalanya.

Sekali lagi, aku hanya bisa tertawa pahit dalam hati. Setelah sebelumnya ia mem'Bully'ku dengan wajah datar dan sinis miliknya, kali ini ia malah memberikanku wajah imut. Untung saja aku bukanlah seorang lolicon. Karena jika aku adalah seorang lolicon, pasti aku segera mengarunginya.

Tapi disisi lain, aku benci pada diriki sendiri. Benci akan sifatku yang suka menasehati orang lain, tapi tidak bisa melakukan apa yang ku nasehatkan. Ya, meskipun aku bilang aku akan terbang suatu saat nanti, tapi semua itu hanya omong kosong.

kenapa?

karena seluruh kehidupanku sudah diatur, diikat dalam rantai takdir yang mungkin tidak akan pernah putus.

“Ya, sebuah persiapan supaya kau memiliki tujuan pasti dan tidak akan tersesat”

Setelah itu pesanan datang dan tidak ada lagi yang berbicara

.

.

.

"Terima kasih atas makanannya." setelah keheningan yang begitu panjang, Alice berkata dengan riang.

Jujur saja, ada suatu kelegaan tersindiri. Meskipun lidahnya begitu berbahaya, tapi jika dia diam... Keadaan disekitarnya malah menjadi tidak nyaman.

Serasa mencekik

Kugelengkan kepalaku perlahan, coba menghilangkan pemikiran aneh yang muncul disana.

"Kau sudah selesai?"

"Tentu"

"Apa uangmu cukup?" aneh sekali ia berbicara seperti itu. Mungkin dia merasa tidak enak telah memaksaku mentraktirnya. Tapi tenang saja, tadiaku hanya memesan makanan yang paling murah. Ya, paling murah untuk orang-orang yang berdompet tebal. Tapi tidak untukku.

Cukup? Sebenarnya aku bahkan tidak membawa uang. Yang aku bawa hanyalah kartu kredit peninggalan orang tuaku yang harusnya kugunakan dalam keadaan darurat.

Tapi, ini juga termasuk keadaan darurat kan?

Oh, Ayah Ibu maafkanlah putramu ini

"Tak apa." Ya, biar aku dan kantongku yang bertapa

.

.

.

.

"Wah, indahnya!" ketika keluar, Alice menyuarakan kegembiraan secara frontal. Sesuatu yang tidak aku mengerti.

Hujan telah reda, menyisakan genangan air yang bagaikan cermin dimana-mana. Sinar mentari senja juga perlahan muncul, menyinari bumi sesuai perannya. Termasuk genangan air tadi, menghasilkan suatu pembiasan cahaya. Sesuatu yang menurutku biasa, namun entah mengapa.... Alice tidak merasa demikian.

Namun, lagi-lagi aku hanya terdiam. Hanya menatap Alice dari belakang, tentu payung dan jas hujannya juga sudah diambil dari penitipan direstoran tadi.

Hening sejenak.

“Oh ya, tadi kau berkata jika kita tidak boleh tersesat bukan!? Tapi menurutku tidak seperti itu”

Eh, bicara apa kau ini?

“Menurutku, tersesat, ragu, dan kehilanga arah malah merupakan sebuah jalur yang malah harus kita tempuh dalam hidup ini.”

Kenapa, kenapa anak kecil sepertinya mampu berkata seperti itu?

"Karena dengan begitu, kita akan menjadi manusia yang sesuai dengan keinginan kita sendiri. Asalkan kita terus menjalaninya, kuyakin... suatu saat nanti, hari itu pasti datang"

"......" Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Tak pernah kubanyangkan jika aku akan dinasehati oleh anak kecil sepertinya. Aku harus bersyukur atau malah harus sedih ya?

"Tapi, hari ini benar-benar menyenangkan. Aku bersyukur bisa hidup sampai saat ini" Alice membalikkan badan, menghadapku dengan tubuh yang perlahan memudar.

Kini, semua misteri terjawab sudah.
Alasan kenapa meski dia telah berteriak, tidak ada yang mengejarku saat aku mencuri payungnya.

Alasan kenapa aku masih basah meski telah menggunakan payung yang aku curi darinya.

Alasan kenapa hanya aku yang diberikan buku menu saat direstoran tadi.

Alasan kenapa aku merasa ditatap dengan aneh oleh pelayan tadi.

Jawaban dari seluruh misteri itu adalah: karena Alice adalah hantu, sesuatu yang hanya bisa kulihat dan kurasakan, serta berinteraksi denganku. Dan sepertinya, sudah tidak ada lagi yang menahannya untuk tetap di dunia ini.

"Sayonara, Nii-san" ucapnya terakhir kali sebelum benar-benar menghilang.

Bagaimana ya, caraku menanggapi salam perpisahannya tadi. Nii-san kah, entah kenapa aku merasa senang. Tapi yang lebih penting sekarang...

"Aku tidak menyangka kemampuanku ini akan muncul kembali"

....bagaimana caraku menanggapi hal ini

Hati kecilku merasa lega, karena bagaimana pun kemampuanku yang tidak biasa ini memang milikku yang tidak seharusnya hilang. Tapi, disisi lain... apa orang-orang disekitarku akan menerimanya?

Aku harus bagaimana?

Hanya jawaban itu yang kubutuhkan sekarang, tapi tidak ada yang bisa memberikan jawabannya.

                                                                                         " The End. "

Lagi-lagi aku kehilangan arah, tapi…..

…. Kini dibawah langit senja ini, aku telah membuat keputusan.

Pertemuanku denganmu telah membuka mataku lebih lebar. Jadi, mulai sekarang... aku akan terus hidup sampai menemukan jawaban itu.

Itu yang kau katakan bukan!?

Aku pun akan percaya pada hal itu.





Lihat profil lengkapku: https://www.blogger.com/profile/03601686940661157811
Lihat di facebook: https://www.facebook.com/rizki.fauzi.14418101