~ "Payung Petaka" ~
“Menyebalkan”
Kata-kata
itu meluncur begitu saja dari mulutku. Bagaimana tidak, ingin melepas
penat setelah seharian menjalani serangkaiauyn pelajaran yang membosankan,
aku kini malah terjebak di sebuah toko karena hujan yang dengan
derasnya menggur tempatku tinggal.
“Padahal aku hanya ingin jalan-jalan, tapi kurasa aku tidak punya pilihan lain.”
Ya, dan satu-satunya pilihan yang ada hanyalah pulang.
Tapi bagaimana caranya?
Karena tidak pernah menyangka akan hujan, aku tidak membawa payung. Aku juga tidak membawa uang.
Rintik-rintik
hujan yang seharusnya menjadi berkah untuk sebagian besar orang itu,
kini malah terasa seperti kutukan untukku. Jika dipikir-pikir lagi,
mungkin inilah yang disebut kesialan. Jika boleh berharap, aku berharap
akan ada malakat baik hati yang akan datang memberikan pertolongan
untukku.
Dan bingo! Aku melihat seorang anak perempuan yang
mungkin berusia kurang lebih 12 tahun sedang berdiri di teras depan toko
ini. Tidak hanya itu, ia juga mengenakan sebuah jas hujan dengan sebuah
payung merah tergeletak disampingnya. Menari-nari ditengah guyuran
hujan, itulah yang ia lakukan.
Sangat bersemangat seolah ini terakhir kalinya dia melakukan hal ini.
Tapi….
….. aku tidak pernah menyangka harapanku akan terkabul secepat ini.
Aku
tidak tau siapa dia dan dimana orang tuanya, tapi aku tau satu hal yang
pasti, dia adalah malaikat keberuntunganku yang akan membebaskanku dari
penderitaanku hari ini.
Membawa payung seperti itu tidak ada
gunanya bukan jika sudah memakai jas hujan seperti itu, jadi sebagai
remaja SMA yang baik, aku akan mengambil benda itu. Ya, paling tidak
itulah yang kubisikkan pada diriku sendiri saat akan mengambil (baca
Mencuri) payung itu.
Perlahan tapi pasti, aku mendekati gadis
kecil itu. Hal itu terasa mudah karena posisiku yang berada dibelakang
agak kiri dari posisinya, dan saat keadaan sudah mendukung langsung saja
kuambil payung itu dan-
“Dapat!”
“Ehh…”
Entah
mengapa sifat kekanak-kanakanku muncul di saat seperti ini, rasanya aku
ingin memukul kepalaku sendiri akan apa yang baru saja kukacaukan hari
ini. Tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan inilah, aku lebih
memilih untuk memikirkan apa yang akan terjadi padaku setelah ini.
Aku sudah berakhir….
Aku
memang cukup ragu akan keberuntungan ini, tapi tak kusangka
keberuntungan ini hanyalah jebakan. Ya, jebakan menuju kesialanku yang
lain.
Selesai sudah ceritaku ini. Ya, selesai dengan sad ending dimana aku akan berakhir menderita.
Sial,
padahal aku bukanlah tokoh Antagonis disini. Tunggu dulu, bukankah
sejak awal tidak ada tokoh Antagonis maupun Protagonisnya. Tapi….
MANA MUNGKIN AKU AKAN MEMBIARKAN HAL ITU TERJADI!
Merespon
apa yang aku inginkan, gear-gear yang ada diotakku langsung bekerja
untuk membuat perintah mengenai tindakan apa yang harus kulakukan
selanjutnya dan setelah selesai, ia langsung menggerakkan seluruh syaraf
yang ada ditubuhku untuk mematuhinya, dan tindakan itu adalah Lari.
Aku
bukanlah orang bodoh yang tidak tau apa yang akan terjadi padaku jika
aku ketahuan mengambil payung anak kecil ini. Ya, sudah jelas jika aku
akan berakhir di kantor polisi atau mungkin lebih buruk seperti dipukuli
warga sekitar, di-
Sudah cukup, aku tidak ingin membayangkan cara kematianku.
Meski kudengar dia sempat berteriak, tapi aku tidak perduli lagi.
Ya, cukup berlari dan berlari.
.
.
.
.
.
“Hah… Hah… Hah…”
"Sungguh memalukan."
Rasanya aku ingin tertawa jika mengingat kejadian tadi, kejadian yang membuatku seolah-olah terlihat tidak berguna.
Kini,
aku berteduh di didepan sebuah toko yang mungkin tutup karena tangisan
langit pada hari ini. Dengan baju yang sebagian besar basah serta nafas
yang terengah-engah karena berlari tadi, aku mencoba mendinginkan
kepalaku. Guruku pernah berkata, jika kita harus melakukan hal-hal hebat
untuk bisa diceritakan pada anak cucu kita nanti. Tapi mengingat apa
yang kulakukan pada gadis kecil tadi, aku hanya mampu tersenyum sedih.
Hey,
coba bayangkan jika kau menceritakan hal yang memalukan tadi pada anak
cucumu. Entah apa respon mereka, mungkin saja kau akan dieksekusi
ditempat.
Oke, kurasa aku harus ke Pskiater setelah ini....
Tapi,
kurasa keberuntunganku hari ini memang buruk. Tidak, kurasa buruk
masih tidak sesuai tapi… jika kau menambahkan kata sangat sebanyak
sepuluh kali sebelum kata buruk, kurasa itu baru benar.
.
.
.
"Jadi gadis manis, siapa namamu?" dengan tersenyum manis (baca : palsu)
aku mengatakan hal ini pada gadis kecil yang ada didepanku saat ini.
Yah, meskipun, kata Iblis kecil lebih cocok. Bagaimana tidak, dengan
usia yang kira-kira 12 tahun ini, ia sudah bisa memerasku di restoran
yang terbilang mahal ini. Kenapa?
Singkat cerita, gadis kecil ini
mampu menemukanku yang sudah berlari cukup jauh darinya. Tidak hanya
itu, ia juga menyuruhku untuk mengembalikan payungnya. Dan karena sudah
lelah bermain kejar-kejaran dengannya, aku pun tidak menolak. TAPI yang
membuatku syok adalah gadis kecil ini meminta kompensasi alias ganti
rugi kepadaku, bahkan ia sempat akan berteriak jika aku menolak.
Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
Padahal dia hanya anak kecil yang berumur 12 tahun.
"Bukankah tidak sopan jika menanyakan nama orang lain tanpa mengenalkan diri terlebih dahulu."
Serangan pertama.
Aku
masih saja memasang senyum, meski telah mendengar kalimat datar namun
terkesan sinis itu. Padahal tadi aku hanya ingin mencairkan suasana yang
tadinya canggung.
"Kuro Kagami, Jadi siapa namamu?" berharap
mendadapat respon yang lebih baik, namun yang kudapat hanya tatapan
tajam darinya. Apalagi sikap ditunjukannya saat ini, sikap dimana ia
menaruh kedua tangannya didagu lalu menatapku dengan tatapan
menganalisa. Tapi tatapan itu terasa menakutkan, hingga seolah-olah ia
mengulitiku.
“Kuro Kagami…. Hm, pada awalnya kupikir nama palsu,
tapi setelah melihat warna rambut dan matamu yang sama-sama hitam aku
percaya. Benar-benar cocok, namamu hitam seperti hatimu.”
-Guhh-
Serangan kedua.
Menghembuskan nafas sejenak, ia lalu menjawab pertanyaanku.
"Alice, hanya itu yg bisa kuberitahukan."
"kenapa?" karena bingung, reflek aku mengangkat salah satu alisku.
"Ibuku pernah bilang untuk menjauhi orang asing, apalagi seorang remaja tidak tau diri seperti Kau ini."
Sebuah serangan ketiga, kali ini lebih menyakitkan. Apalagi nada penuh penekanan diakhir kalimat itu.
"Aku-"
"Tidak tau diri mungkin kurang tepat, lebih tepatnya adalah pencuri tidak tau diri"
Aku pun mencoba menyangkalnya lagi, meskipun malah serangan keempat yang kudapatkan.
"Baik-baik, aku mengaku salah tapi setidaknya panggilah aku dengan namaku, karena kata Kau itu terdengar kurang enak. Jad-"
Seolah sudah mengetahui apa yang ingin kukatakan, ia langsung memotong perkataanku.
"Tidak hanya itu, setelah apa yang terjadi kau malah ingin menyuruhku menanggilmu
Nii-san,
dasar tidak tau diri. Apa mungkin kau berfikir ini adalah setting
sebuah novel, dimana aku adalah adikmu yang memiliki sifat Brocon, dasar
tidak tau diri"
Tidak, aku tidak senista itu
"Apa mungkin kau seorang lolicon"
"jika bukan, apakah kau seorang JONES yang berharap jika mencuri payungku akan membuatmu mendapat keberuntungan alias pacar?"
“Dasar me-”
Sudah cukup, aku menyerah.
Setelah
beberapa serangan beruntun itu, aku terlalu syok untuk mendengar
kelanjutannya. Bisa kukatakan jika lidahnya itu seperti pistol, ya
pistol yang menembakkan pelurunya menembus seluruh jaringan syarafku
lalu bersarang tepat dihatiku.
Kenapa pistol? Karena pedang atau tombak sudah sangat Mainstream bukan?
Karena itu aku menyerah! Kututup mataku, mencoba menulikan telingaku sebisa mungkin.
Jika
ini sebuah Anime, dikepalaku pasti akan ada aura suram level dewa yang
akan membuatku terlihat menyedihkan. Tapi sayang, ini bukanlah sebuah
Anime….. ini hanya rangkaian peristiwa buruk yang menimpaku.
Ah sudahlah, aku memang harus ke psikiater sesudah ini. Tapi sebelum itu,
"Darimana kau belajar kata-kata itu?" merasa tidak ada lagi tembakan darinya, aku mencoba mencari topic pembicaran yang aman.
" Aku belajar dari buku-buku yang ku baca."
"Kau banyak waktu ya?"
"Um,
karena karena aku terbiasa sendiri maka aku sering menenggelamkan diri
pada buku." Akhirnya aku bisa membawa Alice keluar dari zona serangnya,
tapi fakta bahwa ia mempelajari kata-kata berat itu dari buku cukup
membuatku sedih. Hey, menurutmu buku macam apa yang mengajarinya hal
itu. Lalu buku apa yang ia baca, Itu juga masih menjadi misteri untukku.
Pembicaraan
kami terus berlanjut, mulai dari pembicaraan penting hingga tidak
penting. Kami saling menyelami satu sama lain, terkadang pendapat kami
sama. Namun sering kali berbeda, seperti kali ini.
"Apa aku mengatakan hal yang salah?"
Dapat
kurasakan keringat dingin mengalir di punggungku mendengar nada
takut-takut darinya. Bagaimana tidak? Alice, gadis kecil didepanku ini
dapat merubah ekspresinya sesuka hati. Apa mungkin dia punya banyak
kepribadian? Hm, misteri misteri
Tapi, apa mungkin tadi aku
menunjukkan wajah muram? Jika iya, satu lagi poin negatif untukku. Tapi,
ternyata kalah dalam sebuah adu argument tidaklah menyenangkan. Tidak,
bukan karena itu. Tapi lebih ke kata-kata yang dia ucapkan, begitu
menusuk.
"Jadi kau benar-benar marah ya... Kalau be-begitu, ini
sebagai permintaan maafku." Tenggelam dalam lamunanku sendiri malah
membuat situasi semakin rumit dan mungkin karena Alice merasa bersalah,
ia memberikanku sesuatu yang berbentuk mirip dengan sebuah buku, atau
mungkin memang sebuah buku.
"Eh, tidak perlu kok-" kata-kataku
tersangkut di tenggorokan ketika melihat kembali wajahnya. Mata coklat
madunnya berkaca-kaca dan wajahnya memerah seolah menahan tangis,
sehingga dapat kupastikan jika ia akan menangis jika kutolak benda
pemberiannya itu.
Kurasa aku tidak punya pilihan lain.
"kalau begitu, terima-" sekali lagi kata-kataku tersangkut di tenggorokan ketika baru saja memegang buku itu.
Apa yang Alice berikan adalah sebuah komik, sesuatu yang wajar untuk anak seusianya.
Seharusnya,
aku berkomentar seperti itu. Tapi, setelah melihat sampulnya. Aku tak
bisa menahan diri untuk menjatuhkan bahuku, tersenyum hambar untuk untuk
menutupi rasa ketidakpercayaan yang muncul.
Kenapa anak kecil sepertinya mempunyai buku seperti ini?
Aku
berteriak dalam hati, kenapa buku dengan sampul dua orang laki-laki
yang sebaiknya tidak usah kujelaskan ini ada ditangannya. Dan yang lebih
penting, buku itu sekarang berada ditanganku. Jika seseorang melihat-
"Silahkan
pilih menu yang tersedia didaftar." Pemikiranku terhenti ketika
akhirnya seorang pelayan datang membawakanku buku menu restoran ini.
Aku sudah berakhir.
Lagi-lagi
aku hanya bisa tersenyum hambar sambil menerima buku itu. Aku tidak
berani menatap wajah pelayan itu, bagaimanapun dari nada yang ia gunakan
saja, aku seolah bisa mendengar jika ia berkata: Dasar aneh dan
menjijikkan
"Tolong pesankan aku juga, makanan apa pun boleh
asalkan enak." Tak memperdulikan keadaanku, Alice malah dengan riangnya
membuat permintaan.
Padahal, ia bilang jika ini tanda maafnya. Tapi, lagi-lagi aku tertipu
Situasi
ini, bagaimana mengatakannya ya? Aku seperti baru saja diterbangkan
keatas awan, tapi kemudian... aku terjatuh tanpa rem. Dan tempatku
mendarat adalah Neraka
"Terima kasih, silahkan tunggu sebentar!"
setelah mencatat pesanan kami, ia lalu pergi. Tapi aku masih tidak
berani menatap wajah pelayan itu.
"Boleh aku bertanya satu hal?" Sambil menunggu pesanan datang, Alice bertanya dengan tiba-tiba
Apa yang terjadi? Entah mengapa nada bicaranya kali ini berbeda
Nada
itu, benar-benar berbeda dengan yang tadi. Jika sebelumnya ia
menggunakan nada datar, sinis, dan penuh percaya diri yang tidak cocok
untuk anak seusianya, kali ini yang kudengar adalah nada dengan sebuah
keraguaan di dalamnya. Tapi, aku juga tak ingin ambil pusing akan hal
itu. Jadi, aku langsung menjawab seadanya.
"Tentu, kenapa tidak!?"
"Apa pendapatmu jika kau hidup di dalam sangkar emas?" pertanyaan ambigu, tapi cukup jelas bagiku.
Apa
mungkin ia adalah anak berkecukupan namun terkekang dan kesepian lalu
berfikir jika hidup bebas di luar adalah yang terbaik? Aku tidak tau,
atau lebih tepatnya tidak ingin tau.
Ia masih putih, masih polos
akan dunia luar, dunia yang tidak akan menunjukkan belas kasihannya
bahkan pada anak kecil sepertinya, juga dunia yang juga pernah
mendepakku sekali. Namun, tentu saja aku tidak ingin mengatakan hal itu
"Aku pasti akan senang" ya, tentu semua orang akan merasa begitu
"Tapi…..
pasti lama-kelamaan aku akan merasa bosan. Jadi, ketika waktunya tiba
aku akan keluar dan terbang bebas dilangit dengan sayapku"
"Pasti enak ya, bisa terbang bebas di langit" kali ini raut wajahnya juga terlihat sedih
"kau pun juga bisa terbang bebas dilangit"
"Benarkah?" tanyanya dengan semangat, sedangkan aku hanya mengangguk mengiyakan
"kau hanya butuh persiapan"
"persiapan?" mungkin karena bingung, ia bertanya sambil memiringkan kepalanya.
Sekali
lagi, aku hanya bisa tertawa pahit dalam hati. Setelah sebelumnya ia
mem'Bully'ku dengan wajah datar dan sinis miliknya, kali ini ia malah
memberikanku wajah imut. Untung saja aku bukanlah seorang lolicon.
Karena jika aku adalah seorang lolicon, pasti aku segera mengarunginya.
Tapi
disisi lain, aku benci pada diriki sendiri. Benci akan sifatku yang
suka menasehati orang lain, tapi tidak bisa melakukan apa yang ku
nasehatkan. Ya, meskipun aku bilang aku akan terbang suatu saat nanti,
tapi semua itu hanya omong kosong.
kenapa?
karena seluruh kehidupanku sudah diatur, diikat dalam rantai takdir yang mungkin tidak akan pernah putus.
“Ya, sebuah persiapan supaya kau memiliki tujuan pasti dan tidak akan tersesat”
Setelah itu pesanan datang dan tidak ada lagi yang berbicara
.
.
.
"Terima kasih atas makanannya." setelah keheningan yang begitu panjang, Alice berkata dengan riang.
Jujur
saja, ada suatu kelegaan tersindiri. Meskipun lidahnya begitu
berbahaya, tapi jika dia diam... Keadaan disekitarnya malah menjadi
tidak nyaman.
Serasa mencekik
Kugelengkan kepalaku perlahan, coba menghilangkan pemikiran aneh yang muncul disana.
"Kau sudah selesai?"
"Tentu"
"Apa
uangmu cukup?" aneh sekali ia berbicara seperti itu. Mungkin dia merasa
tidak enak telah memaksaku mentraktirnya. Tapi tenang saja, tadiaku
hanya memesan makanan yang paling murah. Ya, paling murah untuk
orang-orang yang berdompet tebal. Tapi tidak untukku.
Cukup?
Sebenarnya aku bahkan tidak membawa uang. Yang aku bawa hanyalah kartu
kredit peninggalan orang tuaku yang harusnya kugunakan dalam keadaan
darurat.
Tapi, ini juga termasuk keadaan darurat kan?
Oh, Ayah Ibu maafkanlah putramu ini
"Tak apa." Ya, biar aku dan kantongku yang bertapa
.
.
.
.
"Wah, indahnya!" ketika keluar, Alice menyuarakan kegembiraan secara frontal. Sesuatu yang tidak aku mengerti.
Hujan
telah reda, menyisakan genangan air yang bagaikan cermin dimana-mana.
Sinar mentari senja juga perlahan muncul, menyinari bumi sesuai
perannya. Termasuk genangan air tadi, menghasilkan suatu pembiasan
cahaya. Sesuatu yang menurutku biasa, namun entah mengapa.... Alice
tidak merasa demikian.
Namun, lagi-lagi aku hanya terdiam. Hanya
menatap Alice dari belakang, tentu payung dan jas hujannya juga sudah
diambil dari penitipan direstoran tadi.
Hening sejenak.
“Oh ya, tadi kau berkata jika kita tidak boleh tersesat bukan!? Tapi menurutku tidak seperti itu”
Eh, bicara apa kau ini?
“Menurutku, tersesat, ragu, dan kehilanga arah malah merupakan sebuah jalur yang malah harus kita tempuh dalam hidup ini.”
Kenapa, kenapa anak kecil sepertinya mampu berkata seperti itu?
"Karena
dengan begitu, kita akan menjadi manusia yang sesuai dengan keinginan
kita sendiri. Asalkan kita terus menjalaninya, kuyakin... suatu saat
nanti, hari itu pasti datang"
"......" Aku benar-benar kehabisan
kata-kata. Tak pernah kubanyangkan jika aku akan dinasehati oleh anak
kecil sepertinya. Aku harus bersyukur atau malah harus sedih ya?
"Tapi,
hari ini benar-benar menyenangkan. Aku bersyukur bisa hidup sampai saat
ini" Alice membalikkan badan, menghadapku dengan tubuh yang perlahan
memudar.
Kini, semua misteri terjawab sudah.
Alasan kenapa meski dia telah berteriak, tidak ada yang mengejarku saat aku mencuri payungnya.
Alasan kenapa aku masih basah meski telah menggunakan payung yang aku curi darinya.
Alasan kenapa hanya aku yang diberikan buku menu saat direstoran tadi.
Alasan kenapa aku merasa ditatap dengan aneh oleh pelayan tadi.
Jawaban
dari seluruh misteri itu adalah: karena Alice adalah hantu, sesuatu
yang hanya bisa kulihat dan kurasakan, serta berinteraksi denganku. Dan
sepertinya, sudah tidak ada lagi yang menahannya untuk tetap di dunia
ini.
"Sayonara, Nii-san" ucapnya terakhir kali sebelum benar-benar menghilang.
Bagaimana
ya, caraku menanggapi salam perpisahannya tadi. Nii-san kah, entah
kenapa aku merasa senang. Tapi yang lebih penting sekarang...
"Aku tidak menyangka kemampuanku ini akan muncul kembali"
....bagaimana caraku menanggapi hal ini
Hati
kecilku merasa lega, karena bagaimana pun kemampuanku yang tidak biasa
ini memang milikku yang tidak seharusnya hilang. Tapi, disisi lain...
apa orang-orang disekitarku akan menerimanya?
Aku harus bagaimana?
Hanya jawaban itu yang kubutuhkan sekarang, tapi tidak ada yang bisa memberikan jawabannya.
" The End. "
Lagi-lagi aku kehilangan arah, tapi…..
…. Kini dibawah langit senja ini, aku telah membuat keputusan.
Pertemuanku
denganmu telah membuka mataku lebih lebar. Jadi, mulai sekarang... aku
akan terus hidup sampai menemukan jawaban itu.
Itu yang kau katakan bukan!?
Aku pun akan percaya pada hal itu.
Lihat profil lengkapku: https://www.blogger.com/profile/03601686940661157811
Lihat di facebook: https://www.facebook.com/rizki.fauzi.14418101