"Janji Kita"
Penulis: A wahyu.
Cinta.
Kata
itu sudah ku dengar bahkan sebelum aku bisa mengingatnya. Dulu Aku
selalu bertanya-tanya, apa cinta itu sejenis makakan? Atau mungkin
mainan? Aku tidak tau. Ketika bertanya kepada pelayan pun, hanya
jawaban ambigu yang kudapat, seperti: Anda belum cukup umur untuk
mengetauinya atau Anda akan tau dengan sendirinya. Rasanya ingin aku
bertanya pada kedua orang tuaku, namun mereka tidak pernah ada untukku.
maklum, Terlahir di keluarga yang sangat berkecukupan, membuat diriku
terbatas jarak dengan Orang tuaku.
Teman.
Aku juga sering
mendengar kata-kata itu, meski aku sudah mengetahui arti kata-kata itu,
namun karena alasan yang sama Aku tidak bisa memilikinya. Paling tidak
sampai aku bisa bertemu dengannya.
Hime, itulah nama gadis itu.
Gadis yang memberikanku sebuah warna tinta tersendiri di kehidupanku
yang semula kosong dan..... Membosankan.
Meskipun terlahir
dikeluarga yang cukup mirip, namun dia memiliki caranya tersendiri dalam
hidup hingga mampu menemukan warna-warna kehidupan yang tidak bisa
kutemukan.
Aku pertama kali bertemu dengannya dalam sebuah pesta
yang dibuat Ayahku. Meskipun sejujurnya aku tidak menyukai pesta, namun
statusku sebagai anak tunggal membuatku tidak kuasa untuk menolak. Tapi
malam itu adalah sebuah kenangan tersendiri dikepalaku. Ya,aku tidak
akan pernah melupakan pertemuan itu bahkan sampai mati pun aku tidak
akan lupa.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Hoi….
Arashi bangun! Sudah siang.” Tampak seorang pemuda sedang membangunkan
temannya dengan mengguncang-guncangkan tubuh temannya itu sambil
berbicara lirih. Kenapa lirih? Ini berkaitan dengan tempat mereka berada
saat ini, yaitu perpustakaan.
Perlahan tapi pasti, pemuda bernama Arashi itu segera bangun dari tidur cantiknya. “Hoamm… kau mengganggu mimpi indahku saja.”
“Mimpi indah? Pffft… seharusnya kau berterima kasih padaku karena mengurangi dosamu, dosa yang muncul karena mimpi mesummu itu.”
“Ka- ka- kau…. Apa maksudmu?”
“Bukankah
sudah jelas, memanggil nama seorang gadis disertai senyum anehmu itu
adalah sebuah mimpi yang mesum. Bahkan radar kemesuman yang kumiliki,
berbunyi keras menunjuk padamu.”
“Bu- bukan seperti-” tanpa sadar
mengeraskan nada suaranya, membuat Arashi dihadiahi puluhan tatapan
tajam. Sedangkan Arata teman yang membangunkannya tadi malah asik
bersiul siul ria, seolah tidak kenal dengan Arashi.
‘Sial!’
Arashi hanya bisa mengumpat dalam hati, karena ulah temannya itu.
Apalagi mengenai radar masum tadi, memangnya ada. Namun dalam sekejap,
pikirannya dipenuhi hal-hal jahil untuk membalas Arata.
‘Khu khu
Khu…. Tunggu saja pembalasanku!’ entah mengapa tiba-tiba Arata merasakan
atmosfir aneh, hingga merinding dalam sekejap. Seolah-olah hal buruk
sudah menantinya.
“Kau serius ingin pergi ke pesta malam ini?
Kalau iya, matahari pasti akan terbit dari barat.” Meskipun terlihat
bercanda, namun nada yang digunakan Arata sangat serius. Bagaimana
tidak, ia sangat tau jika Arashi sangat membenci pesta. Namun kali ini,
dia malah memintanya untuk menemaninya.pasti otaknya sedang bermasalah.
Atau-
“Apa yang sedang kau pikirkan?” pemikiran Arata berhenti seketika ketika mendengar nada tajam Arashi.
“Ah, tidak tidak. Jadi?” Arashi menunjukkan mimik tidak percaya, tapi ia pun tidak ingin membahasnya lebih lanjut.
“Aku
hanya ingin menemui seseorang.” Arata terdiam, bukan karena perkataan
itu. Tapi, lebih kepada raut wajah yang ditunjukkan Arashi. Raut wajah
penuh kerinduan, namun juga penuh kebahagiaan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Anoo,
apa kita saling kenal?" dengan memiringkan kepala, gadis itu; Hime
bertanya dengan nada penuh kebingungan. Sedangkan disisi lain, lawan
bicara terdiam dan melebarkan kedua bola matanya sesaat
Jujur
saja, mendengar kalimat itu, lelaki yang kini menjadi lawan bicaranya;
Arashi merasa seperti ditikam pisau tepat di jantungnya. Ya, hal yang
wajar jika kau dilupakan setelah hampir 7 tahun tidak bertemu. Bahkan
sebenarnya Arashi sudah mempersiapkan diri akan kemungkinan ini, tapi
tetap saja ada bagian dari dirinya yang terasa hancur.
Jika
kalian ingin tau hubungan mereka, maka akan kujelaskan secara singkat.
Status mereka sebenarnya teman masa kecil, meskipun teman masa kecil
masih belum sesuai dengan keadaan mereka.
Terpaut hanya kurang
lebih setahun, membuat mereka sangat dekat. Makan bersama, bermain
bersama, mandi bersama, bahkan tidur bersama dulu sering kali mereka
lakukan. Sesuatu yang sebenarnya wajar jika kau lakukan semasa
anak-anak, namun bagi Arashi tidak sesederhana itu.Baginya, Hime lebih
dari seorang teman yang bernasib sama.
Karena bagi Arashi, Hime itu sudah seperti....
Seorang ibu….. pada anaknya.
Seorang kakak…… pada adiknya.
Bahkan, seperti seorang kekasih...
Ya, meskipun pada awalnya ia tidak mengerti akan perasaan ini. Namun saat ini, ia benar-benar yakin akan hal itu.
Akan
tetapi saat usianya menginjak 15 tahun, Hime yang saat itu berusia 14
tahun harus pindah ke luar kota bersama keluarganya. Meninggalkan sebuah
janji diantara mereka. Ya, sebuah janji yang kini terlupakan...
Kini
Arashi berusia 22 tahun, usia dimana pikirannya telah berkembang pesat
sesuai anak seusianya bahkan mungkin lebih. Karena itu, ia sadar jika
janji itu pasti akan dilupakan. Namun entah mengapa Ia tidak mampu
melupakan janji itu, malah seperti janji itu sudah seperti terpaku,
mengakar ke dalam kepalanya.
"Hahahaha.... Sudah pasti kau lupa.
Kalau begitu, mari kita mulai dari awal. Perkenalkan namaku Arashi,
Kurogane Arashi. Salam kenal!"
mengulurkan tangan kanannya, Arashi mencoba bersikap tenang. Mencoba
tersenyum,
meskipun hatinya menjerit terluka. Hingga senyum itu malah terlihat
aneh, tidak cocok digunakan saat perkenalan atau bisa dibilang senyum
yang dipaksakan.
Mungkin jika ia adalah seorang perempuan, ia
pasti sudah berlari pulang, menangis, dan mengurung diri di kamar
berhari-hari. Namun karena ia seorang laki-laki yang dapat dikatakan
lebih bisa menjaga emosinya, Arashi memilih tersenyum, sebuah senyum
palsu untuk menutupi perasaannya.
Tidak menyadari senyum palsu itu, Hime menyambut uluran tangan itu sampil memikirkan sesuatu
"Kirishima
Hime, salam kenal juga. Arashi ya, Sepertinya nama itu terdengar
familiar. Ap-" kata-kata itu ia gumamkan pada dirinya sendiri.
"Ya, kita bertetangga hingga umurmu 14 tahun."
"Aku
terkejut, kau banyak berubah." kata-kata itu disertai rona merah dipipi
Hime, mungkin ia malu karena tidak mengenali teman masa kecilnya. Siapa
tau…..
"Aku juga." Hanya itu yang mampu Arashi berikan sebagai
respon akan pernyataan itu. Bagaimana tidak, setelah 7 tahun tak
bertemu, Hime gadis kecil yang ia kenal dulu telah menjelma menjadi
seorang malaikat yang cantik jelita.
Ya, bahkan kata cantik masih
kurang. Ia kini terlihat menawan, mempesona. Dengan dress berwarna biru
cerah senada warna matanya. Saking mempesonanya, Arashi bahkan sempat
lupa bernafas saat pertama kali melihatnya setelah sekian lama. Jika
boleh, Arashi ingin waktu berhenti untuk bisa menyaksikan Hime
selama-lamanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku
dan Hime kini tengah berdansa. Bergerak dengan lembut mengikuti musik
yang dimainkan. Namun entah mengapa, tidak ada yang bersuara.
Serasa hening
Keheningan
yang begitu mencekik ini membuatku merasa tidak nyaman. Namun, ketika
aku ingin buka suara, memulai pembicaraan. Pikiranku serasa kosong,
tidak tau apa yang harus kuucapkan.
Hime juga terlihat....
gelisah. Aku tidak tau apa yang sedang dipikirkannya. Namun, bahasa
tubuh yang digunakannya.... jelas bukan sesuatu yang bagus.
Dia terlihat seolah terbebani.
Aneh
bukan? Disaat kupikir malam ini akan menjadi sebuah reuni diantara kami
berdua. Tapi, ternyata yang terjadi bukan seperti itu.
"Arashi!?"
Hime mencoba buka suara, menarikku dari pemikiran anehku. Sekaligus
menghilangkan keheningan yang begitu mencekik diantara kami berdua.
"....." Aku diam tak menjawab, tapi harusnya bahasa tubuhku sudah cukup menjadi jawaban.
"Maaf....." Aku tidak mengerti, kenapa dia meminta maaf? Apa sesuatu
yang buruk akan terjadi?
".... tapi, mungkin janjiku, hubungan kita kita hanya akan sama seperti dulu," aku
diam tak menjawab. Aku tidak pernah menduga hal ini, ia masih mengingat janji itu. Namun lagi-lagi
hatiku bagai ditusuk sebuah jarum.
Janji
itu adalah sebuah jawaban pertanyaanku saat perpisahan kami dulu.
Pertanyaan mengenai pernyataan cintaku. Silahkan jika kalian ingin
tertawa, tapi perasaan yang mungkin menurut kalian cinta monyet ini
adalah sesuatu yang sangat berharga bagiku.
Hime terlihat
menggigit bibir bawahnya sendiri, mungkin dia mencoba menguatkan diri
dari apa yang akan dikatakannya. Mungkin? Bagaimana pun, aku tidak tau
apa yang sedang difikirkannya.
"Aku sudah dijodohkan oleh kedua orangtuaku.... Maaf." Kata-kata itu diakhiri dengan sebuah senyum sedih.
"Dengan siapa?" kenapa nada bicaraku terdengar aneh? Ekspresi apa yang kini aku gunakan?
Aku tidak tau
Pikiranku serasa kosong, dadaku terasa sakit.
"Aku….. belum tau." dan kata itulah yang menutup dansa kami pada malam ini.
.
.
.
.
.
"Sial."
Kuhantamkan
tangan kananku sekuat tenaga kearah cermin hingga beberapa keretakan
besar terlihat disana. Tak perduli jika aku harus menggantinya nanti,
tak perduli jika tangan kananku kini penuh akan darah.
Aku tidak perduli.
Kini,
yang kuperdulikan hanyalah mencari pelampiasan akan apa yang tengah
kurasakan. Bukan karena perkataan Hime tadi, tapi lebih pada diriku
sendiri.
"Kenapa kau masih bisa tersenyum?" sebuah pertanyaan kini tengah berkecambuk dipikiranku.
Kenapa?
Kau sedang menghadapi sebuah takdir kejam yang tak bisa kau tolak, tapi.... kenapa kau masih bisa tersenyum?
Meski hanya sebuah senyum sedih, tapi tetap saja kau tersenyum. Sedangkan aku.... hanya bisa membeku tidak berdaya.
Kenapa?
Padahal
alasanku menemuimu adalah untuk menunjukkan diriku yang sekarang. Diri
yang sudah kuanggap dewasa, diri yang menurutku sudah setara denganmu.
Tapi.... lagi-lagi, aku tidak berdaya.
Tak perduli berapa waktu yang terlewat, tak perduli apa yang kulakukan..... aku tidak pernah bisa mengejarmu.
Kau bagai fatamorgana, nampak dekat. Namun begitu aku bergerak dan membentangkan tangan, kau
sudah menghilang dikejauhan.
Drrt Drrt Drrt
Suara
ponselku menarikku kembali ke kenyataan. Ketika mengangkatnya, aku
hanya berharap jika aku mampu membuat suaraku senormal mungkin.
"Ada apa Ayah?"
"......"
"Begitu ya, jadi aku juga."
"......"
"Tidak tidak, jangan difikirkan."
"Sial!" sekali lagi kuhantamkan kepalan tanganku kearah cermin.
"Kenapa jadi seperti ini!?" cermin yang penuh keretakan didepanku ini benar-benar cocok untuk menggambarkan keadaanku saat ini.
Retak... menunggu waktu untuk hancur.
.
.
.
.
.
"Hora...
cepatlah bangun pemalas!" dengan nada sesemangat mungkin, Arata coba
membangunkan Arashi setelah mendobrak pintu apartementnya. Sebenarnya
kata mendobrak tidaklah tepat, mengingat bahwa pintu itu tidaklah
dikunci.
Saat perjalanan menuju kamar Arashi, Arata tidak
henti-hentinya meringis melihat pemandangan yang tersaji disana. Arashi
merupakan anak dari pemilik salah perusahaan terbesar di negara ini,
karena itu pada awalnya ia cukup kaget ketika mengetahui jika Arashi
tinggal di sebuah apartement. Tapi jika begitu, dalam benaknya Arata
membanyangkan sebuah apartement mewah yang paling tidak cocok untuk
seorang konglomerat. Tapi ini.... begitu jauh dari bayangannya.
Bayangan apartement mewah itu tergantikan oleh sebuah apartement minimalis, namun memiliki sebuah kenyaman tersendiri.
Seharusnya itulah komentar yang keluar, tapi tidak
Apartement
itu berantakan, barang tercecer dimana-mana. Seolah-olah, badai baru
saja melanda tempat ini. Dan badai itulah, tujuannya.
"Hoi,
Ara..... shi" suku kata yang paling akhir, ia ucapkan dengan pelan.
Seolah tidak kuat menghadapi kenyataan yang ada didepannya.
Arata memang melihat Arashi, tapi jiwa/pikirannya tidak berada disana
Arashi
yang kini meringkuk disudut kamarnya itu tampak begitu pucat dan kurus,
kantung mata jelas terlihat diwajahnya. Tidak hanya itu, ia masih
mengenakan jas –pakaian pesta- yang dua hari lulu ia gunakan. Dari
gambaran itu saja Arata sudah cukup mengambil kesimpulan.
‘Jadi ia langsung pulang dan mengamuk, lalu meringkuk disini begitu lelah.’
Membulatkan tekad, Arata berkata.
"Ternyata kau sangat payah Arashi! Hanya karena seorang gadis, kau sampai seperti ini"
Arashi hanya diam tak menanggapi, ia masih saja terdiam dengan pandangan kosongnya.
"Berdirilah, sialan!" tanpa basa-basi lagi, Arata mencengkram kerah jas yang digunakan Arashi.
Menurutnya,
dia lebih baik dijahili oleh Arashi daripada melihat pandangan kosong
itu. Sebuah pandangan yang seolah menjadi penanda jika Arashi..... bisa
hancur kapan saja.
"Jangan sia-siakan waktumu, Sang Putri kini menunggu diselamatkan olehmu!"
“Kau
tidak mengerti, tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Inilah keadaanku
yang sebenarnya- tidak, inilah keadaan kami, para burung yang terkurung
dalam sangkar emas yang bernama kekuasaan ini,”
“Sang putri juga
telah mendapat pendamping yang lebih baik, berbeda denganku yang
hanyalah manusia yang tidak berguna.” Lanjutnya lagi, masih dengan
ekspresi kosongnya.
Mendengar kata-kata penuh keputusasaan itu,
Arata seolah bisa merasakan kesedihan Arashi. Tapi, ia harus kuat.
Paling tidak, sampai dirinya bisa memberikan sebuah pukulan pada Arashi.
“Kau
memang bukanlah Seorang Pangeran. Sejak awal, ini bukanlah dunia
Dongeng. Tapi, kau adalah Badai. Badai yang akan menyelamatkannya.”
"Lalu, kau berfikir jika berdiam diri, meringkuk meratapi kejadian ini adalah yang terbaik. hah?"
"......"
"Kenapa
kau diam!? Terkurung heh, jangan bercanda! Kau disini, didepanku....
Apa yang tadi kau sebut sangkar hanyalah ilusi yang kau buat sendiri,
sebagai pelampiasan atas hidupmu"
Entah mengapa, untuk suatu
alasan Arashi mulai menunjukkan respon. Giginya saling beradu satu sama
lain hingga menimbulkan suara keras. Tak hanya itu, pandangan kosong
yang semula dimilikinya berubah menjadi pandangan tajam seolah ingin
membunuh lawan bicaranya.
Karena itulah, kubilang kau tidak
mengerti! Apa yang kau sebut kebebasan ini adalah sebuah hasil dari
perjuangan yang kulakukan, detik demi detik selama bertahun-tahun hingga
aku berhasil membuat ayahku setuju dan sekarang, dengan waktu yang
terbatas ini kau dengan mudahnya bilang begitu. Jangan sok tau!
Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Arashi balas mencengkram kerah baju Arata.
Saking terbawa emosi, Arashi tidak menyadari jika kata-kata yang harusnya ia ucapkan dalam batin itu malah terucap dibibirnya.
"Lalu, memangnya kenapa?"
"........." Arashi terdiam, ia tidak pernah membayangkan jika Arata mengabaikan argumentnya.
"Bukankah
itu bagus? kebebasan ini adalah bukti bahwa tidak ada yang percuma dari
sebuah kerja keras. Karena itu, bangunlah sekarang juga! Bangun dan
berjuanglah."
Dari tatapannya saja, Arashi bisa menyimpulkan jika
kekeras kepalaan Arata mungkin lebih keras daripada batu. Ah... mungkin
kapan-kapan ia harus coba mengadu keduanya. Tapi jika dipikir-pikir....
"Aku tak pernah menyangka kau bisa berbicara begitu."
"Itu tidak penting! mulai sekarang, jangan sia-siakan waktumu lagi"
.... kata-kata itulah yang Arashi butuhkan sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kududukkan tubuhku perlahan, sebisa mungkin bersikap tenang meski jantung ini berdetak begitu kencang bagai genderang perang.
Rumah
Hime, itulah tempatku berada saat ini. Setelah mendapat pukulan Arata
tadi pagi, keputusan ini aku buat. Dan keputusan itu adalah.... aku
tidak akan menyerah.
Meski mungkin perjuangan yang akan kulakukan
hanya akan sia-sia, tapi... aku tetap akan berjuang. Aku tidak ingin
menyesal dikemudian hari.
"Hai, maaf ya agak lama."
"Tidak-tidak, aku juga belum lama sampai." Ya, baru tiga puluh menit berlalu.
Waktu
yang singkat untukku berfikir. Meski telah membuat keputusan, tapi aku
tidak tau harus mulai darimana. Menyatakan perasaanku saat ini juga
atau-
""Arashi/Hime-"" ah, seperti sinetron saja. Kami ingin
memulai pembicaraan secara bersamaan, tapi karena persamaan waktu...
kami jadi sama-sama canggung untuk melanjutkannya.
""Kau dulu!"" lagi-lagi keadaan masih sama.
Namun,
hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Mungki tidak akan apa-apa
jika kami dalam keadaan normal, tapi sekarang aku tidak memiliki banyak
waktu.
"Maaf, aku duluan."
Hening sejenak.
Tak mendapat respon penolakan darinya, aku mengambil nafas dalam-dalam lalu melanjutkan.
"Aku telah membuat keputusan."
"Eh?" sepertinya dia masih belum memahami apa yang aku katakan.
"Aku akan berjuang, akanku bebaskan kau dari takdir yang kini membelenggumu."
"......" Hime terdiam, menundukkan kepala.
"Kenapa?" sekarang, aku malah tidak mengerti apa yang kini dia ucapkan.
"Kenapa kau bisa sekuat itu?" Hime perlahan menatapkan dengan mata sayu penuh tanda tanya.
kuat? Tidak, aku tidaklah kuat. Justru bagiku, kau seratus kali lebih kuat dariku.
Jadi, seharusnya akulah yang bertanya demikian.
Kesusahan
telah menderamu berkali-kali, kau lebih muda dariku. Namun, mengapa kau
justru lebih dewasa. Sinar matamu selalu tampak begitu jernih, senyummu
tampak menawan meski telah menghadapi berbagai kesusahan.
Sesuatu yang tidak bisa kulakukan.
Pada
awalnya, aku iri padamu. Namun entah mengapa, lama-kelamaan rasa iri
itu berubah menjadi rasa kagum hingga akhirnya menjadi cinta.
Oleh karena itu, kenapa kau malah mengganggapku kuat?
"Sejak
kita kecil dulu, kau selalu saja begitu kuat. Meski halangan dan
rintangan berada didepanmu, tau tetap saja melewati itu semua tanpa rasa
takut."
"......" Lagi-lagi aku hanya mampu terdiam.
"Pada
awalnya aku iri, tapi lama-kelamaan rasa itu berubah menjadi rasa
kagum." Aku tak kuasa untuk tidak menunjukkan rasa terkejut yang muncul
melalui wajahku.
Benar-benar mirip dengan apa yang kualami, tapi
apakah rasa kagum itu juga berubah menjadi rasa cinta? Pertanyaan itu
berkecambuk dihatiku.
"Hime, apakah... kau mencintaiku?" dapat kulihat raut wajah penuh keterkejutan diwajahnya.
"Eh, tapi aku sudah dijodohkan-"
"Hime,
apakah kau mengingat janji kita? Janji dimana kau akan menjawab
pertanyaan ini dengan jujur. Jadi tolong…. jawab saja dengan jujur."
Benar, jangan lari... cukup jawab
saja dengan jujur.
Hening beberapa saat.
"Aku mencintaimu." Ujarnya dengan malu-malu, namun tanpa keraguan berarti.
Aku
benar-benar bahagia sekarang. Ingin rasanya aku berteriak dengan segala
perasaan yang kupunya, tapi.... masih ada halangan yang harus dilewati.
Baik untukku, maupun untuknya. Namun, untuk saat ini halangan itu
tidaklah penting. Karena itu, perlahan kudekatkan wajahku ke wajahnya.
Meja yang berada diantara kami tidak menjadi halangan untuk momen yang
sebentar lagi akan datang.
10 cm
5 cm
3 cm
1 cm
Ceklek
Suara pintu terbuka, membuat momen diantara kami rusak dalam sekejap.
Dalam sepersekian detik, kami sudah dalam posisi semula, agak menjauh.
"Arashi,
kau disini!?" pada awalnya aku ingin mengumpat, tapi setelah tau jika
ayah Hime, Akira yang masuk keruangan ini.... aku langsung kehabisan
kata-kata.
Tidak hanya itu, Ayahku yang tepat berada dibelakangnya langsung menyapaku.
Ada apa ini?
"Seharusnya aku juga berkata seperti itu ayah," kutatap wajah ayahku dengan penuh tanda tanya.
"Hahaha... Tentu saja aku ingin bertemu calon menantuku."
Hah?
Apa yang dikatakannya tadi?
Lagi-lagi aku tak kuasa untuk menahan diri untuk terkejut. Dan sepertinya, Hime pun begitu.
"Ada
apa? Apa aku belum bilang jika Hime adalah jodohmu. Kau sudah cukup
umur untuk menikah dan kebetulan Hime memenuhi seluruh persyaratannya."
Aku masih saja memasang wajah terkejutku.
"Lagipula, aku dan Akira adalah teman lama. Haha...."
Kenapa aku tidak menyadari hal sesederhana ini?
Memang
masuk akal, Kemarin- sampai saat ini, Hime memang belum diberitahu
mengenai calonnya. Tidak hanya itu, selang beberapa saat, aku mendapat
kabar jika aku dijodohkan.
Semuanya menjadi jelas sekarang.
Rasanya, aku ingin mati saja.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Jika kau tidak suka, ayah akan-"
"Tidak-tidak, aku benar-benar bahagia sekarang." Itu benar! dan tidak hanya aku, Hime pun juga terlihat begitu.
Selalu ada jalan untuk semua hal.
Kata-kata yang dulu hanya bagaikan ilusi itu, kini terjadi tepat didepan mataku.
Takdir memang tidak bisa ditebak.
Bukankah begitu?
The End.