Kamis, 24 Maret 2016

Cerita Karangan Oneshot: Janji Kita

                                                                "Janji Kita"

Penulis: A wahyu.
 Cinta.

Kata itu sudah ku dengar bahkan sebelum aku bisa mengingatnya. Dulu Aku selalu bertanya-tanya, apa cinta itu sejenis makakan? Atau mungkin mainan? Aku tidak tau. Ketika bertanya kepada pelayan pun, hanya jawaban ambigu yang kudapat, seperti: Anda belum cukup umur untuk mengetauinya atau Anda akan tau dengan sendirinya. Rasanya ingin aku bertanya pada kedua orang tuaku, namun mereka tidak pernah ada untukku. maklum, Terlahir di keluarga yang sangat berkecukupan, membuat diriku terbatas jarak dengan Orang tuaku.

Teman.



Aku juga sering mendengar kata-kata itu, meski aku sudah mengetahui arti kata-kata itu, namun karena alasan yang sama Aku tidak bisa memilikinya. Paling tidak sampai aku bisa bertemu dengannya.

Hime, itulah nama gadis itu. Gadis yang memberikanku sebuah warna tinta tersendiri di kehidupanku yang semula kosong dan..... Membosankan.

Meskipun terlahir dikeluarga yang cukup mirip, namun dia memiliki caranya tersendiri dalam hidup hingga mampu menemukan warna-warna kehidupan yang tidak bisa kutemukan.

Aku pertama kali bertemu dengannya dalam sebuah pesta yang dibuat Ayahku. Meskipun sejujurnya aku tidak menyukai pesta, namun statusku sebagai anak tunggal membuatku tidak kuasa untuk menolak. Tapi malam itu adalah sebuah kenangan tersendiri dikepalaku. Ya,aku tidak akan pernah melupakan pertemuan itu bahkan sampai mati pun aku tidak akan lupa.

.
.
.
.
.
.
.
.

“Hoi…. Arashi bangun! Sudah siang.” Tampak seorang pemuda sedang membangunkan temannya dengan mengguncang-guncangkan tubuh temannya itu sambil berbicara lirih. Kenapa lirih? Ini berkaitan dengan tempat mereka berada saat ini, yaitu perpustakaan.

Perlahan tapi pasti, pemuda bernama Arashi itu segera bangun dari tidur cantiknya. “Hoamm… kau mengganggu mimpi indahku saja.”

“Mimpi indah? Pffft… seharusnya kau berterima kasih padaku karena mengurangi dosamu, dosa yang muncul karena mimpi mesummu itu.”

“Ka- ka- kau…. Apa maksudmu?”

“Bukankah sudah jelas, memanggil nama seorang gadis disertai senyum anehmu itu adalah sebuah mimpi yang mesum. Bahkan radar kemesuman yang kumiliki, berbunyi keras menunjuk padamu.”

“Bu- bukan seperti-” tanpa sadar mengeraskan nada suaranya, membuat Arashi dihadiahi puluhan tatapan tajam. Sedangkan Arata teman yang membangunkannya tadi malah asik bersiul siul ria, seolah tidak kenal dengan Arashi.

‘Sial!’ Arashi hanya bisa mengumpat dalam hati, karena ulah temannya itu. Apalagi mengenai radar masum tadi, memangnya ada. Namun dalam sekejap, pikirannya dipenuhi hal-hal jahil untuk membalas Arata.

‘Khu khu Khu…. Tunggu saja pembalasanku!’ entah mengapa tiba-tiba Arata merasakan atmosfir aneh, hingga merinding dalam sekejap. Seolah-olah hal buruk sudah menantinya.

“Kau serius ingin pergi ke pesta malam ini? Kalau iya, matahari pasti akan terbit dari barat.” Meskipun terlihat bercanda, namun nada yang digunakan Arata sangat serius. Bagaimana tidak, ia sangat tau jika Arashi sangat membenci pesta. Namun kali ini, dia malah memintanya untuk menemaninya.pasti otaknya sedang bermasalah. Atau-

“Apa yang sedang kau pikirkan?” pemikiran Arata berhenti seketika ketika mendengar nada tajam Arashi.

“Ah, tidak tidak. Jadi?” Arashi menunjukkan mimik tidak percaya, tapi ia pun tidak ingin membahasnya lebih lanjut.

“Aku hanya ingin menemui seseorang.” Arata terdiam, bukan karena perkataan itu. Tapi, lebih kepada raut wajah yang ditunjukkan Arashi. Raut wajah penuh kerinduan, namun juga penuh kebahagiaan.

.
.
.
.
.
.
.
.
.

"Anoo, apa kita saling kenal?" dengan memiringkan kepala, gadis itu; Hime bertanya dengan nada penuh kebingungan. Sedangkan disisi lain, lawan bicara terdiam dan melebarkan kedua bola matanya sesaat

Jujur saja, mendengar kalimat itu, lelaki yang kini menjadi lawan bicaranya; Arashi merasa seperti ditikam pisau tepat di jantungnya. Ya, hal yang wajar jika kau dilupakan setelah hampir 7 tahun tidak bertemu. Bahkan sebenarnya Arashi sudah mempersiapkan diri akan kemungkinan ini, tapi tetap saja ada bagian dari dirinya yang terasa hancur.

Jika kalian ingin tau hubungan mereka, maka akan kujelaskan secara singkat. Status mereka sebenarnya teman masa kecil, meskipun teman masa kecil masih belum sesuai dengan keadaan mereka.

Terpaut hanya kurang lebih setahun, membuat mereka sangat dekat. Makan bersama, bermain bersama, mandi bersama, bahkan tidur bersama dulu sering kali mereka lakukan. Sesuatu yang sebenarnya wajar jika kau lakukan semasa anak-anak, namun bagi Arashi tidak sesederhana itu.Baginya, Hime lebih dari seorang teman yang bernasib sama.

Karena bagi Arashi, Hime itu sudah seperti....

Seorang ibu….. pada anaknya.

Seorang kakak…… pada adiknya.

Bahkan, seperti seorang kekasih...

Ya, meskipun pada awalnya ia tidak mengerti akan perasaan ini. Namun saat ini, ia benar-benar yakin akan hal itu.

Akan tetapi saat usianya menginjak 15 tahun, Hime yang saat itu berusia 14 tahun harus pindah ke luar kota bersama keluarganya. Meninggalkan sebuah janji diantara mereka. Ya, sebuah janji yang kini terlupakan...

Kini Arashi berusia 22 tahun, usia dimana pikirannya telah berkembang pesat sesuai anak seusianya bahkan mungkin lebih. Karena itu, ia sadar jika janji itu pasti akan dilupakan. Namun entah mengapa Ia tidak mampu melupakan janji itu, malah seperti janji itu sudah seperti terpaku, mengakar ke dalam kepalanya.

"Hahahaha.... Sudah pasti kau lupa. Kalau begitu, mari kita mulai dari awal. Perkenalkan namaku Arashi, Kurogane Arashi. Salam kenal!"
mengulurkan tangan kanannya, Arashi mencoba bersikap tenang. Mencoba
tersenyum, meskipun hatinya menjerit terluka. Hingga senyum itu malah terlihat aneh, tidak cocok digunakan saat perkenalan atau bisa dibilang senyum yang dipaksakan.

Mungkin jika ia adalah seorang perempuan, ia pasti sudah berlari pulang, menangis, dan mengurung diri di kamar berhari-hari. Namun karena ia seorang laki-laki yang dapat dikatakan lebih bisa menjaga emosinya, Arashi memilih tersenyum, sebuah senyum palsu untuk menutupi perasaannya.

Tidak menyadari senyum palsu itu, Hime menyambut uluran tangan itu sampil memikirkan sesuatu

"Kirishima Hime, salam kenal juga. Arashi ya, Sepertinya nama itu terdengar familiar. Ap-" kata-kata itu ia gumamkan pada dirinya sendiri.

"Ya, kita bertetangga hingga umurmu 14 tahun."

"Aku terkejut, kau banyak berubah." kata-kata itu disertai rona merah dipipi Hime, mungkin ia malu karena tidak mengenali teman masa kecilnya. Siapa tau…..

"Aku juga." Hanya itu yang mampu Arashi berikan sebagai respon akan pernyataan itu. Bagaimana tidak, setelah 7 tahun tak bertemu, Hime gadis kecil yang ia kenal dulu telah menjelma menjadi seorang malaikat yang cantik jelita.

Ya, bahkan kata cantik masih kurang. Ia kini terlihat menawan, mempesona. Dengan dress berwarna biru cerah senada warna matanya. Saking mempesonanya, Arashi bahkan sempat lupa bernafas saat pertama kali melihatnya setelah sekian lama. Jika boleh, Arashi ingin waktu berhenti untuk bisa menyaksikan Hime selama-lamanya.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Aku dan Hime kini tengah berdansa. Bergerak dengan lembut mengikuti musik yang dimainkan. Namun entah mengapa, tidak ada yang bersuara.

Serasa hening

Keheningan yang begitu mencekik ini membuatku merasa tidak nyaman. Namun, ketika aku ingin buka suara, memulai pembicaraan. Pikiranku serasa kosong, tidak tau apa yang harus kuucapkan.

Hime juga terlihat.... gelisah. Aku tidak tau apa yang sedang dipikirkannya. Namun, bahasa tubuh yang digunakannya.... jelas bukan sesuatu yang bagus.

Dia terlihat seolah terbebani.

Aneh bukan? Disaat kupikir malam ini akan menjadi sebuah reuni diantara kami berdua. Tapi, ternyata yang terjadi bukan seperti itu.

"Arashi!?" Hime mencoba buka suara, menarikku dari pemikiran anehku. Sekaligus menghilangkan keheningan yang begitu mencekik diantara kami berdua.

"....." Aku diam tak menjawab, tapi harusnya bahasa tubuhku sudah cukup menjadi jawaban.

"Maaf....." Aku tidak mengerti, kenapa dia meminta maaf? Apa sesuatu
yang buruk akan terjadi?

".... tapi, mungkin janjiku, hubungan kita kita hanya akan sama seperti dulu," aku
diam tak menjawab. Aku tidak pernah menduga hal ini, ia masih mengingat janji itu. Namun lagi-lagi
hatiku bagai ditusuk sebuah jarum.

Janji itu adalah sebuah jawaban pertanyaanku saat perpisahan kami dulu. Pertanyaan mengenai pernyataan cintaku. Silahkan jika kalian ingin tertawa, tapi perasaan yang mungkin menurut kalian cinta monyet ini adalah sesuatu yang sangat berharga bagiku.

Hime terlihat menggigit bibir bawahnya sendiri, mungkin dia mencoba menguatkan diri dari apa yang akan dikatakannya. Mungkin? Bagaimana pun, aku tidak tau apa yang sedang difikirkannya.

"Aku sudah dijodohkan oleh kedua orangtuaku.... Maaf." Kata-kata itu diakhiri dengan sebuah senyum sedih.

"Dengan siapa?" kenapa nada bicaraku terdengar aneh? Ekspresi apa yang kini aku gunakan?

Aku tidak tau

Pikiranku serasa kosong, dadaku terasa sakit.

"Aku….. belum tau." dan kata itulah yang menutup dansa kami pada malam ini.
.
.
.
.
.

"Sial."

Kuhantamkan tangan kananku sekuat tenaga kearah cermin hingga beberapa keretakan besar terlihat disana. Tak perduli jika aku harus menggantinya nanti, tak perduli jika tangan kananku kini penuh akan darah.

Aku tidak perduli.

Kini, yang kuperdulikan hanyalah mencari pelampiasan akan apa yang tengah kurasakan. Bukan karena perkataan Hime tadi, tapi lebih pada diriku sendiri.

"Kenapa kau masih bisa tersenyum?" sebuah pertanyaan kini tengah berkecambuk dipikiranku.

Kenapa?

Kau sedang menghadapi sebuah takdir kejam yang tak bisa kau tolak, tapi.... kenapa kau masih bisa tersenyum?

Meski hanya sebuah senyum sedih, tapi tetap saja kau tersenyum. Sedangkan aku.... hanya bisa membeku tidak berdaya.

Kenapa?

Padahal alasanku menemuimu adalah untuk menunjukkan diriku yang sekarang. Diri yang sudah kuanggap dewasa, diri yang menurutku sudah setara denganmu. Tapi.... lagi-lagi, aku tidak berdaya.

Tak perduli berapa waktu yang terlewat, tak perduli apa yang kulakukan..... aku tidak pernah bisa mengejarmu.

Kau bagai fatamorgana, nampak dekat. Namun begitu aku bergerak dan membentangkan tangan, kau
sudah menghilang dikejauhan.

Drrt Drrt Drrt

Suara ponselku menarikku kembali ke kenyataan. Ketika mengangkatnya, aku hanya berharap jika aku mampu membuat suaraku senormal mungkin.

"Ada apa Ayah?"

"......"

"Begitu ya, jadi aku juga."

"......"

"Tidak tidak, jangan difikirkan."

"Sial!" sekali lagi kuhantamkan kepalan tanganku kearah cermin.

"Kenapa jadi seperti ini!?" cermin yang penuh keretakan didepanku ini benar-benar cocok untuk menggambarkan keadaanku saat ini.

Retak... menunggu waktu untuk hancur.

.
.
.
.
.

"Hora... cepatlah bangun pemalas!" dengan nada sesemangat mungkin, Arata coba membangunkan Arashi setelah mendobrak pintu apartementnya. Sebenarnya kata mendobrak tidaklah tepat, mengingat bahwa pintu itu tidaklah dikunci.

Saat perjalanan menuju kamar Arashi, Arata tidak henti-hentinya meringis melihat pemandangan yang tersaji disana. Arashi merupakan anak dari pemilik salah perusahaan terbesar di negara ini, karena itu pada awalnya ia cukup kaget ketika mengetahui jika Arashi tinggal di sebuah apartement. Tapi jika begitu, dalam benaknya Arata membanyangkan sebuah apartement mewah yang paling tidak cocok untuk seorang konglomerat. Tapi ini.... begitu jauh dari bayangannya.

Bayangan apartement mewah itu tergantikan oleh sebuah apartement minimalis, namun memiliki sebuah kenyaman tersendiri.

Seharusnya itulah komentar yang keluar, tapi tidak

Apartement itu berantakan, barang tercecer dimana-mana. Seolah-olah, badai baru saja melanda tempat ini. Dan badai itulah, tujuannya.

"Hoi, Ara..... shi" suku kata yang paling akhir, ia ucapkan dengan pelan. Seolah tidak kuat menghadapi kenyataan yang ada didepannya.

Arata memang melihat Arashi, tapi jiwa/pikirannya tidak berada disana

Arashi yang kini meringkuk disudut kamarnya itu tampak begitu pucat dan kurus, kantung mata jelas terlihat diwajahnya. Tidak hanya itu, ia masih mengenakan jas –pakaian pesta- yang dua hari lulu ia gunakan. Dari gambaran itu saja Arata sudah cukup mengambil kesimpulan.

‘Jadi ia langsung pulang dan mengamuk, lalu meringkuk disini begitu lelah.’

Membulatkan tekad, Arata berkata.
"Ternyata kau sangat payah Arashi! Hanya karena seorang gadis, kau sampai seperti ini"

Arashi hanya diam tak menanggapi, ia masih saja terdiam dengan pandangan kosongnya.

"Berdirilah, sialan!" tanpa basa-basi lagi, Arata mencengkram kerah jas yang digunakan Arashi.

Menurutnya, dia lebih baik dijahili oleh Arashi daripada melihat pandangan kosong itu. Sebuah pandangan yang seolah menjadi penanda jika Arashi..... bisa hancur kapan saja.

"Jangan sia-siakan waktumu, Sang Putri kini menunggu diselamatkan olehmu!"

“Kau tidak mengerti, tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Inilah keadaanku yang sebenarnya- tidak, inilah keadaan kami, para burung yang terkurung dalam sangkar emas yang bernama kekuasaan ini,”

“Sang putri juga telah mendapat pendamping yang lebih baik, berbeda denganku yang hanyalah manusia yang tidak berguna.” Lanjutnya lagi, masih dengan ekspresi kosongnya.

Mendengar kata-kata penuh keputusasaan itu, Arata seolah bisa merasakan kesedihan Arashi. Tapi, ia harus kuat. Paling tidak, sampai dirinya bisa memberikan sebuah pukulan pada Arashi.

“Kau memang bukanlah Seorang Pangeran. Sejak awal, ini bukanlah dunia Dongeng. Tapi, kau adalah Badai. Badai yang akan menyelamatkannya.”

"Lalu, kau berfikir jika berdiam diri, meringkuk meratapi kejadian ini adalah yang terbaik. hah?"

"......"

"Kenapa kau diam!? Terkurung heh, jangan bercanda! Kau disini, didepanku.... Apa yang tadi kau sebut sangkar hanyalah ilusi yang kau buat sendiri, sebagai pelampiasan atas hidupmu"

Entah mengapa, untuk suatu alasan Arashi mulai menunjukkan respon. Giginya saling beradu satu sama lain hingga menimbulkan suara keras. Tak hanya itu, pandangan kosong yang semula dimilikinya berubah menjadi pandangan tajam seolah ingin membunuh lawan bicaranya.

Karena itulah, kubilang kau tidak mengerti! Apa yang kau sebut kebebasan ini adalah sebuah hasil dari perjuangan yang kulakukan, detik demi detik selama bertahun-tahun hingga aku berhasil membuat ayahku setuju dan sekarang, dengan waktu yang terbatas ini kau dengan mudahnya bilang begitu. Jangan sok tau!

Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Arashi balas mencengkram kerah baju Arata.

Saking terbawa emosi, Arashi tidak menyadari jika kata-kata yang harusnya ia ucapkan dalam batin itu malah terucap dibibirnya.

"Lalu, memangnya kenapa?"

"........." Arashi terdiam, ia tidak pernah membayangkan jika Arata mengabaikan argumentnya.

"Bukankah itu bagus? kebebasan ini adalah bukti bahwa tidak ada yang percuma dari sebuah kerja keras. Karena itu, bangunlah sekarang juga! Bangun dan berjuanglah."

Dari tatapannya saja, Arashi bisa menyimpulkan jika kekeras kepalaan Arata mungkin lebih keras daripada batu. Ah... mungkin kapan-kapan ia harus coba mengadu keduanya. Tapi jika dipikir-pikir....

"Aku tak pernah menyangka kau bisa berbicara begitu."

"Itu tidak penting! mulai sekarang, jangan sia-siakan waktumu lagi"

.... kata-kata itulah yang Arashi butuhkan sekarang.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Kududukkan tubuhku perlahan, sebisa mungkin bersikap tenang meski jantung ini berdetak begitu kencang bagai genderang perang.

Rumah Hime, itulah tempatku berada saat ini. Setelah mendapat pukulan Arata tadi pagi, keputusan ini aku buat. Dan keputusan itu adalah.... aku tidak akan menyerah.

Meski mungkin perjuangan yang akan kulakukan hanya akan sia-sia, tapi... aku tetap akan berjuang. Aku tidak ingin menyesal dikemudian hari.

"Hai, maaf ya agak lama."

"Tidak-tidak, aku juga belum lama sampai." Ya, baru tiga puluh menit berlalu.

Waktu yang singkat untukku berfikir. Meski telah membuat keputusan, tapi aku tidak tau harus mulai darimana. Menyatakan perasaanku saat ini juga atau-

""Arashi/Hime-"" ah, seperti sinetron saja. Kami ingin memulai pembicaraan secara bersamaan, tapi karena persamaan waktu... kami jadi sama-sama canggung untuk melanjutkannya.

""Kau dulu!"" lagi-lagi keadaan masih sama.

Namun, hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Mungki tidak akan apa-apa jika kami dalam keadaan normal, tapi sekarang aku tidak memiliki banyak waktu.

"Maaf, aku duluan."

Hening sejenak.

Tak mendapat respon penolakan darinya, aku mengambil nafas dalam-dalam lalu melanjutkan.

"Aku telah membuat keputusan."

"Eh?" sepertinya dia masih belum memahami apa yang aku katakan.

"Aku akan berjuang, akanku bebaskan kau dari takdir yang kini membelenggumu."

"......" Hime terdiam, menundukkan kepala.

"Kenapa?" sekarang, aku malah tidak mengerti apa yang kini dia ucapkan.

"Kenapa kau bisa sekuat itu?" Hime perlahan menatapkan dengan mata sayu penuh tanda tanya.

kuat? Tidak, aku tidaklah kuat. Justru bagiku, kau seratus kali lebih kuat dariku.

Jadi, seharusnya akulah yang bertanya demikian.

Kesusahan telah menderamu berkali-kali, kau lebih muda dariku. Namun, mengapa kau justru lebih dewasa. Sinar matamu selalu tampak begitu jernih, senyummu tampak menawan meski telah menghadapi berbagai kesusahan.

Sesuatu yang tidak bisa kulakukan.

Pada awalnya, aku iri padamu. Namun entah mengapa, lama-kelamaan rasa iri itu berubah menjadi rasa kagum hingga akhirnya menjadi cinta.

Oleh karena itu, kenapa kau malah mengganggapku kuat?

"Sejak kita kecil dulu, kau selalu saja begitu kuat. Meski halangan dan rintangan berada didepanmu, tau tetap saja melewati itu semua tanpa rasa takut."

"......" Lagi-lagi aku hanya mampu terdiam.

"Pada awalnya aku iri, tapi lama-kelamaan rasa itu berubah menjadi rasa kagum." Aku tak kuasa untuk tidak menunjukkan rasa terkejut yang muncul melalui wajahku.

Benar-benar mirip dengan apa yang kualami, tapi apakah rasa kagum itu juga berubah menjadi rasa cinta? Pertanyaan itu berkecambuk dihatiku.

"Hime, apakah... kau mencintaiku?" dapat kulihat raut wajah penuh keterkejutan diwajahnya.

"Eh, tapi aku sudah dijodohkan-"

"Hime, apakah kau mengingat janji kita? Janji dimana kau akan menjawab pertanyaan ini dengan jujur. Jadi tolong…. jawab saja dengan jujur." Benar, jangan lari... cukup jawab
saja dengan jujur.

Hening beberapa saat.

"Aku mencintaimu." Ujarnya dengan malu-malu, namun tanpa keraguan berarti.

Aku benar-benar bahagia sekarang. Ingin rasanya aku berteriak dengan segala perasaan yang kupunya, tapi.... masih ada halangan yang harus dilewati. Baik untukku, maupun untuknya. Namun, untuk saat ini halangan itu tidaklah penting. Karena itu, perlahan kudekatkan wajahku ke wajahnya. Meja yang berada diantara kami tidak menjadi halangan untuk momen yang sebentar lagi akan datang.

10 cm

5 cm

3 cm

1 cm

Ceklek

Suara pintu terbuka, membuat momen diantara kami rusak dalam sekejap.

Dalam sepersekian detik, kami sudah dalam posisi semula, agak menjauh.

"Arashi, kau disini!?" pada awalnya aku ingin mengumpat, tapi setelah tau jika ayah Hime, Akira yang masuk keruangan ini.... aku langsung kehabisan kata-kata.

Tidak hanya itu, Ayahku yang tepat berada dibelakangnya langsung menyapaku.

Ada apa ini?

"Seharusnya aku juga berkata seperti itu ayah," kutatap wajah ayahku dengan penuh tanda tanya.

"Hahaha... Tentu saja aku ingin bertemu calon menantuku."

Hah?

Apa yang dikatakannya tadi?

Lagi-lagi aku tak kuasa untuk menahan diri untuk terkejut. Dan sepertinya, Hime pun begitu.

"Ada apa? Apa aku belum bilang jika Hime adalah jodohmu. Kau sudah cukup umur untuk menikah dan kebetulan Hime memenuhi seluruh persyaratannya." Aku masih saja memasang wajah terkejutku.

"Lagipula, aku dan Akira adalah teman lama. Haha...."

Kenapa aku tidak menyadari hal sesederhana ini?

Memang masuk akal, Kemarin- sampai saat ini, Hime memang belum diberitahu mengenai calonnya. Tidak hanya itu, selang beberapa saat, aku mendapat kabar jika aku dijodohkan.

Semuanya menjadi jelas sekarang.

Rasanya, aku ingin mati saja.

"Kenapa wajahmu seperti itu? Jika kau tidak suka, ayah akan-"

"Tidak-tidak, aku benar-benar bahagia sekarang." Itu benar! dan tidak hanya aku, Hime pun juga terlihat begitu.

Selalu ada jalan untuk semua hal.

Kata-kata yang dulu hanya bagaikan ilusi itu, kini terjadi tepat didepan mataku.

Takdir memang tidak bisa ditebak.

Bukankah begitu?

The End.